KENDAL–Curah hujan tinggi yang tiada henti hampir seminggu terakhir, menyebabkan banjir terus meluas dan menggenangi areal persawahan. Ribuan hektar tanaman padi dikhawatirkan mengalami gagal panen.
Menurut informasi yang dihimpun Radar Semarang dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kendal, tercatat ada sekitar 2262 lahan persawahan yang terendam banjir dengan rata-rata umur tanaman 1 minggu hingga 1 bulan.
Kasi Kedaruratan dan Kesiapsiagaan BPBD Kendal, Slamet, mengungkapkan bahwa banjir terparah di Kecamatan Kendal, merendam 548 hektare persawahan. Kemudian Kecamatan Brangsong sebanyak 480 hektare, Kecamatan Patebon 447 hektare, Kecamatan Cepiring 342 hektare, Kecamatan Rowosari 210, Kecamatan Kangkung 95 hektare, Kecamatan Ngampel 66 hektare, Kecamatan Weleri 20 hektare, dan Kecamatan Ringinarum ada 16 hektare.
“Selain sawah yang sudah ditanami, di Kecamatan Brangsong ada sekitar 5 hektare persemaian padi terendam. Tentunya, bibit padi dan tanaman padi yang sudah ditanam terancam mati lantaran diserang hama keong,” katanya Rabu (22/1) siang.
Dia katakan, hingga saat ini kondisi cuaca sulit diprediksi, dan belum stabil. Bahkan ada kemungkinan, banjir masih bisa melanda Kendal.
“Padahal, kalau tidak ada panas, tanaman padi biasanya akan mati. Kondisi itu diperparah dengan banyaknya hama keong yang menghantui petani. Sementara informasi dari BMKG Jateng, curah hujan akan tinggi sampai akhir Maret,” timpalnya.
Pihaknya meminta warga Kendal untuk selalu waspada dengan bencana banjir dan tanah longsor. Terutama warga daerah atas, seperti Sukorejo, Plantungan, Pagereruyung, Patean, juga Boja, Limbangan, Singorojo, Limbangan, dan Kaliwungu Selatan. ”Curah hujan diperkirakan masih akan tinggi, dan rawan longsor,” jalas Slamet. (den/ida)