TL Perempatan Kartini-Yos Soedarso Dibiarkan Rusak

118

UNGARAN—Traffic light (TL) di perempatan Jalan Kartini dengan Jalan Laksda Yos Soedarso Ungaran sudah lebih dari sebulan ini rusak.
Warga menghendaki ada pembenahan sehingga tidak membuat bingung pengguna jalan. Selain itu, warga waswas karena berpotensi menyebabkan kecelakaan lalulintas.
Pantauan Radar Semarang, TL di perempatan ke arah lokasi wisata Siwarak kadang menyala satu lampu saja pada masing-masing TL di empat ruas jalan.
Bahkan, kerap menyala dua lampu atau malah keseluruhan lampu menyala, baik warna merah, hijau, maupun kuning.
Sehingga membuat pengguna jalan kebingungan ketika akan melintas. Mereka juga khawatir saat nyelonong di perempatan, ditabrak dari arah lain karena tidak memahami nyala TL.
Padahal, jalan tersebut termasuk jalur cepat karena banyak bus menuju terminal Sisemut Ungaran. Juga, menjadi akses menuju jalur utama Semarang-Bawen. Sehingga berpotensi terjadi kecelakaan.
Menurut Johana Dini, 29, warga lingkungan Kanjengan, Ungaran Barat, kerusakan lampu pengatur lalulintas sudah terjadi sekitar sebulan lalu, bahkan mungkin lebih. Padahal, TL sangat penting untuk mengatur lalulintas, agar tidak terjadi kemacetan. Juga, agar tidak terjadi kecelakaan lalulintas.
“Kami berharap pemerintah segera memperbaiki. Sebab, kami merasa tidak nyaman ketika melintas di perempatan tersebut.”
Pengguna jalan bernama Teguh, 30, asal Bawen juga mengaku bingung ketika sampai di perempatan Siwarak. Ia bahkan sempat berhenti sejenak untuk memastikan nyala lampu pengatur lalulintas. Setelah mengetahui rusak karena semua lampunya menyala, Teguh langsung jalan.
“Kalau bablas, kita takut tertabrak atau kena tilang karena melanggar. Setelah dicermati, ternyata lampunya rusak. Semestinya segera diperbaiki.”
Kepala Bidang Lalu Lintas Dishubkominfo Kabupaten Semarang, Joko Noerdjanto mengatakan, lampu pengatur lalulintas di perempatan Jalan Kartini masih menganut sistem arus searah, dilengkapi dengan trafo besar. Sehingga pihaknya kesulitan melakukan pengaturan. Apalagi proyek pemasangannya dilakukan oleh Pemprov Jateng. Artinya, yang memahami sistemnya adalah petugas dari Pemprov.
“Kita sudah mengecek, ternyata sistem kelistrikan yang digunakan arus searah, jadi sulit untuk mengaturnya. Kami berencana mengubah sistem menjadi arus bolak-balik atau AC seperti lampu pengatur lalu lintas lainnya. Sehingga mudah pengaturan dan perawatan.” (tyo/isk)