Ribuan Ha Sawah Terendam Banjir

115

KENDAL — Selain menenggelamkan permukiman dan jalan, banjir di Kendal juga menenggelamkan ribuan hektare sawah milik warga. Akibatnya, padi terancam busuk dan puso. Sebab, air telah merendam padi selama kurang lebih 5 hari.
Informasi yang dihimpun Radar Semarang mencatat, sedikitnya 1.000 hektare (ha) persawahan di Kendal terendam banjir. Padahal, petani baru saja melakukan masa tanam padi. Usia padi masih sekitar 3 minggu hingga 1 bulan.
Abazain, 43, petani di Kecamatan Brangsong warga Desa Rejosari RT 01 RW 03 menuturkan, banjir menggenangi sawah miliknya sejak 4 hari lalu. Ia khawatir padi miliknya akan busuk.
Tingginya air juga membuat hama keong emas merajalela. Akibatnya, petani rugi hingga jutaan rupiah.
”Kalau harus tanam ulang, saya butuh 50 kilogram bibit untuk satu petak. Itu belum termasuk pekerjanya. Belum lagi hama keong emas yang banyak kalau hujan, bisa memakan tanaman padi,” keluhnya.
Ketua Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Kendal Tardi SP mengklaim, sedikitnya ada 3 kecamatan yang sawahnya rusak berat, dengan total luas lahan 1.000 ha. Yaitu, Kecamatan Kendal dengan kerusakan sebesar 548 ha, Brangsong 480 ha, dan Patebon 447 ha.
”Pastinya petani merugi, karena sawahnya terancam puso dan tanaman padi busuk karena terlalu lama terendam air.”
Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Kendal Sri Purwati mengatakan, hampir semua areal persawahan di Kendal terendam banjir. Namun ia belum bisa mendata berapa jumlah total areal persawahan yang terendam banjir. ”Hampir semua sawah di Kaliwungu hingga Weleri terendam banjir.”
Anggota Komisi C DPRD Kendal Rubiyanto, menuding, Pemkab lebih siap menanggulangi bencana, dibanding langkah preventif mencegah terjadinya bencana. Buktinya, tidak adanya perencanaan yang baik terkait normalisasi sungai di Kendal.
Ia berharap Pemkab lebih peduli dengan pencegahan banjir dibandingkan penanggulangan banjir. ”Program pencegahan juga harus jelas.”
Kepala Bidang Pengairan, Dinas Bina Marga Sumber Daya Air (SDA), Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kendal Joko Sarwono, mengatakan, banjir terjadi karena fenomena alam. ”Akhir-akhir ini curah hujan sangat tinggi, karena pengaruh bulan purnama dan pengaruh air laut yang sedang pasang. Sehingga membuat aliran air sungai ke hilir tidak lancar, karena terpengaruh oleh pasangnya air laut. (den/isk/ce1)