KENDAL — Gara-gara persoalan sepele, seorang adik nekat membunuh kakak kandungnya sendiri. Korban adalah Panji Yulianto, 25, warga Dukuh Karang Balikan RT 07 RW 03 Desa Tambakrejo, Patebon, Kendal. Ia harus meregang nyawa setelah perutnya disabet menggunakan sabit oleh adiknya, M. Hadiyanto, 19, Selasa (21/1) sekitar pukul 14.00 kemarin. Pelaku nekat membunuh kakaknya untuk membela ibunya, Sulasmi, 47, yang dimaki-maki korban.
Informasi yang dihimpun Radar Semarang menyebutkan, kejadian itu bermula saat sore itu korban merengek meminta uang kepada ibunya, Sulasmi. Namun karena tak dituruti, membuat korban mengamuk. Ia mengejar ibunya sambil membawa sebilah sabit.
Melihat itu, M. Hadiyanto bermaksud membela sang ibu. Ia pun memukul kepala sang kakak menggunakan tangan kosong dari belakang. Kontan saja, korban semakin meledak kemarahannya. Bukan kepada ibunya, tapi gantian kepada sang adik.
Dengan wajah merah padam, korban langsung mengejar adiknya. Dia sempat melemparkan sabit yang dibawanya ke arah Hadiyanto. Beruntung, Hadiyanto berhasil menghindar, hingga sabit itu menancap di pintu dapur.
Karena merasa terancam, Hadiyanto langsung mengambil sabit yang menancap di pintu tersebut, dan dengan cepat menyabetkannya ke perut sang kakak. Nahas dialami Panji. Mendapat serangan mendadak dari adiknya, dia tak mampu menghindar. Akibatnya, sabit tersebut langsung merobek perutnya. Ia pun tewas terkapar bersimbah darah. Usai membunuh kakaknya, Hadiyanto langsung menyerahkan diri ke Mapolsek Patebon.
Praktis, kejadian petang itu langsung menggemparkan warga setempat. Puluhan warga berdatangan ke rumah korban. Ibu korban dan pelaku, Sulasmi, menangis histeris. Ia tampak shock, dan tak menyangka dua anaknya berbuat senekat itu.
Pengakuan tersangka Hadiyanto, dirinya sebenarnya tidak berniat membunuh kakaknya. Semua itu ia lakukan karena tidak terima setelah melihat sang kakak kerap memarahi ibunya. Tak hanya itu, Panji juga sering memukuli ibunya.
”Saya tidak terima ibu sering dimarahi dan dipukuli, tadi sore (kemarin, Red) tidak tahu dia (korban, Red) minta apa. Tapi tiba-tiba mengejar ibu sambil membawa sabit. Saya kasihan sama ibu,” katanya sambil tertunduk lesu.
Menurut Hadiyanto, kakaknya itu diketahui mengidap gangguan jiwa dan penyakit epilepsi. Akibat penyakitnya itu, Panji kerap marah tanpa sebab. Apalagi jika keinginannya tidak dituruti.
”Dia (Panji, Red) anak pertama, sedangkan saya anak ketiga dari lima bersaudara. Dia memang sering marah-marah dan mengancam ibu. Maklum karena dia sedikit punya kelainan jiwa. Tadi siang (kemarin, Red) sebenarnya sudah saya beliin obat. Tapi nggak tahu kok malah marah-marah terus,” ujarnya.
Hal itu dibenarkan oleh Kapolres Kendal AKBP Harryo Sugihhartono melalui Kapolsek Patebon AKP Suparno. ”Korban memang diketahui mengidap gangguan jiwa dan sering marah-marah. Pelaku yang tidak terima berusaha membela ibunya. Hingga terjadilah pembunuhan itu,” jelasnya.
Usai membantai kakaknya, lanjut Suparno, pelaku menyerahkan diri ke Mapolsek Patebon. Kejadian itu langsung dilaporkan ke Polres Kendal. Tak berselang lama, petugas Reskrim Polsek Patebon dan Inafis Polres Kendal merapat ke lokasi kejadian guna melakukan olah TKP.
Dari rumah korban, diamankan sabit yang digunakan untuk membunuh korban. Sabit tersebut biasanya dipakai untuk mencari rumput. Sedangkan jenazah korban dibawa ke kamar mayat RSUD dr Soewondo Kendal guna diotopsi. Hingga kemarin, kasus pembunuhan ini masih ditangani aparat Polres Kendal dan Polsek Patebon. (den/aro/ce1)