Pemkot Minta Kuota Impor Sapi

130

SALATIGA—Seratusan pedagang daging sapi, pengusaha bakso serta abon merealisasikan agenda mogoknya dengan menggeruduk kantor wali kota Salatiga, Senin (20/1). Aksi ini sebagai langkah memprotes kelangkaan dan mahalnya harga daging sapi.
Para pedagang memulai aksinya dengan berkumpul di Pasaraya I Salatiga kemudian berjalan kaki ke kantor wali kota yang berjarak kurang lebih 1 kilometer. Mereka membawa spanduk yang isinya meminta pemerintah mengatasi masalah naiknya harga sapi dan langkanya sapi untuk kebutuhan daging.
Ratusan pedagang daging ini kemudian duduk-duduk di halaman kantor wali kota. Perwakilan pedagang diterima langsung Wali Kota Yuliyanto beserta jajarannya. “Kami bingung dan meminta kepada pemerintah (kota) untuk membantu kami menyalurkan aspirasi kami ke pemerintah pusat. Pasokan rendah, harga mahal sehingga omzet kami turun drastis,” terang Rusmanto, salah satu perwakilan pedagang.
Budi, 43, yang mewakili pedagang bakso di Salatiga mengungkapkan, para penjual bakso juga resah karena bahan baku daging sapi harganya sudah tinggi sehingga dagangan tidak cepat laku. “Pemerintah pusat selalu neko-neko, kondisi semacam ini dimunculkan menjelang pemilu. Ini permainan apa?. Rakyat kecil yang menjadi korban,” ucapnya di hadapan wali kota.
Menyikapi aksi mogok dan protes pedagang ini, Yuliyanto mengatakan sedang mencari terobosan agar sapi siap potong, khususnya yang saat ini impor, bisa masuk ke Kota Salatiga. Pemkot Salatiga akan mengajukan kuota sapi impor melalui Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU). “Mengambil sapi impor harus memakai badan hukum. Kami akan mencoba mengajukan ke pemerintah provinsi maupun pusat meminta sapi impor ke Salatiga. Kami menggunakan payung usaha PDAU agar bisa dilakukan,” jelas Yuliyanto.
Sebagaimana diberitakan, harga daging sapi di Pasar Salatiga saat ini mencapai Rp 90 ribu per kilogram dari harga sebelumnya Rp 70 ribu per kilogram. Ratusan pedagang daging sapi mogok jualan dan menutup kiosnya di Pasaraya I Salatiga sejak Minggu (19/1) lalu. Mereka tidak berjualan lantaran takut rugi karena konsumen tidak mampu membeli. (sas/ton)