PEKALONGAN–Sebanyak 385 penghuni Lapas Kelas IIA Kota Pekalongan menolak untuk dievakuasi, meski banjir setinggi 1 meter telah menenggelamkan kamar tahanan yang mereka tempati. Kondisi ini membuat sulit tidur dan beraktivitas lainnya.
Dari 847 penghuni lapas, rencananya ada 452 warga binaan yang akan dipindah ke lapas lain. Namun kepala lapas baru berhasil mengevakuasi 67 warga binaan.
Kepala Lapas Suprapto, Senin (20/1) mengungkapkan, kondisi Lapas kali ini memang sangat memprihatinkan, karena semua fasilitas lumpuh total. Seluruh bagian Lapas mulai dari pintu masuk, seluruh ruangan kantor, dan delapan blok rumah tahanan terendam banjir dengan ketinggian antara 30 sentimeter hingga 1 meter.
Karena kondisi ini, pihak Lapas mengupayakan evakuasi napi ke Lapas lain. “Kami kesulitan mengevakuasi mereka, karena mereka justru menolak dengan alasan sudah nyaman di sini (Lapas Pekalongan, red),” ungkap Suprapto.
Suprapto juga mengatakan, dari target mengevakuasi separo penghuni, saat ini baru 67 warga binaan yang mau dievakuasi. Sebanyak 21 napi dievakuasi ke Rutan Batang, 23 napi ke Rutan Pekalongan, 5 orang napi dievakuasi ke Lapas Cilacap, 7 napi risiko tinggi ke Lapas Nusakambangan dan sisanya ke beberapa Rutan dan Lapas lain.
“Kami terus melakukan negosiasi dengan mereka agar mau dipindahkan. Evakuasi dilakukan bukan hanya karena banjir, namun over kapasitas yang sudah terjadi di Lapas. Karena dari kapasitas hanya 560 penghuni, kini sudah mencapai 847 penghuni,” kata Suprapto.
Sementara terkait napi yang kesulitan makanan dan akses air bersih, Suprapto mengaku sudah mendapatkan bantuan dari Pemkot Pekalongan. Bantuan berupa nasi bungkus, air mineral dan obat-obatan hingga kemarin siang sudah diterima sebanyak 4 kali waktu makan. “Kalau sekarang, memang masih setengah yang bisa kami penuhi, setengah lagi dibantu Pemkot Pekalongan, sampai kondisi air surut dan normal.” tandas Suprapto.
Salah satu warga binaan Lapas Klas IIA Pekalongan, Bunyamin Rizal, 34, mengaku memang kesulitan menjalankan kegiatan sehari-hari di dalam Lapas sejak banjir menerjang. Untuk tidur ia dan napi lain mempunyai satu trik yaitu membuat atau mencari satu tempat yang masih kering dan tidur secara bergantian. “Kami tidur bergantian, dengan membuat atau mencari lokasi yang masih kering,” kata Rizal yang telah 5 tahun menghuni lapas.
Saat ini, sejumlah warga binaan mulai terserang gejala penyakit seperti demam, flu, diare hingga gatal-gatal. Ia berharap ada bantuan obat-obatan bagi warga binaan yang sakit. “Selama lima tahun, setelah dipindahkan ke Lapas Pekalongan, baru kali merasakan kebanjiran,” ujar Rizal yang menolak untuk dievakuasi. (thd/ton)