Akses Gemah-Sendangguwo Putus

Must Read

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di...

Pasca Robohnya Jembatan Gantung
GEMAH — Pasca ambrolnya jembatan alternatif penghubung antara Kelurahan Gemah, Kecamatan Pedurungan dengan Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, membuat warga sekitar harus memutar arah yang lebih jauh. Jembatan gantung dengan panjang sekitar 60 meter itu sendiri diketahui roboh akibat terseret banjir sungai Kedung Ngetuk Minggu (19/1) petang lalu.
Berdasar data yang dihimpun Radar Semarang di lapangan, fondasi jembatan yang ambrol berada di ujung Kampung Sendang Utara III RT 2 RW 7, Kelurahan Gemah, Pedurungan. Akibat ambrol itu, pembatas jalan dengan fondasi jembatan terpisah sekitar 7 meter.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 17.30 saat sungai sedang banjir. Beruntung, saat kejadian tidak ada warga yang melintas. Jembatan gantung tersebut merupakan akses alternatif bagi warga Gemah yang ingin ke Sendangguwo. Keberadaan jembatan menjadi penghubung warga Sendang Utara III dengan Perumahan Sendang Asri.
Menurut warga setempat, tanda-tanda ambrolnya jembatan sudah diketahui sejak sepekan lalu. Fondasi jembatan terus tergerus air sungai yang sangat deras. Gerusan arus sungai membuat fondasi di ujung jembatan longsor, sehingga tidak kuat menahan konstruksi jembatan gantung.
”Hampir satu minggu ini hujannya sangat deras, arus sungai semakin besar. Kondisi jembatan bertambah parah ketika ada pohon Randu sekitar 25 meter hanyut dan menghantam jembatan,” ujar Mulyono, 53, warga Sendang Utara III RT 2 RW 7, Kelurahan Gemah.
Haryono, 47, warga lain berharap pemerintah segera memperbaiki jembatan tersebut. Sebab, selama ini warga lebih sering mengakses jembatan gantung tersebut saat ingin ke Sendangguwo, Kedungmundu, maupun Karanggawang, begitu sebaliknya. ”Sekarang kita harus memutar arah untuk ke Kedungmundu. Paling tidak membutuhkan waktu 15 menit,” katanya.
Akses alternatif tersebut hanya bisa dilalui dengan motor dan jalan kaki, karena lebar jembatan hanya sekitar 1,30 meter saja. Menurut warga, jembatan gantung tersebut dibangun sekitar 5-6 tahun lalu.
”Jembatan itu terbilang masih baru, sekitar 5-6 tahun ini. Harapan kita jembatan segera dibangun permanen, dibeton, jangan gantung seperti itu, berbahaya kalau hujan bisa ambrol lagi,” ujar Farida, yang diamini warga lainnya.
Lurah Gemah Sukamto menyatakan, tanda-tanda jembatan ambrol sudah diketahui sejak lama. Pihaknya juga mengklaim telah mengusulkan anggaran untuk perbaikan jembatan tersebut.
”Tahun ini sebenarnya sudah dianggarkan untuk perbaikan jembatan, tapi anggaran belum turun sudah ada peristiwa ini. Kemarin anggaran yang di-ploting untuk perbaikan sekitar Rp 200 juta. Kalau sekarang ambrol, mungkin anggarannya berubah, karena untuk perbaikan total,” terangnya.
Sukamto mengatakan, konstruksi jembatan gantung tersebut merupakan pindahan dari jembatan Kalialang, Sukorejo, Gunungpati yang saat ini sudah dibangun permanen. ”Konstruksinya bekas jembatan Kalialang, jadi sudah cukup lama dipakai sebelumnya. Harapan kita jembatan ini bisa dibangun permanen dan dilebarkan. Sehingga lebih aman,” tandasnya.
Menurut Sukamto, akses penghubung antara Kelurahan Gemah dan Sendangguwo yang terpisahkan Sungai Kedung Ngetuk ini ada tiga jembatan. Satu permanen dan dua jenis jembatan gantung. ”Yang jembatan Sendangguwo di sisi barat nanti juga akan diperbaiki,” imbuhnya.
Terpisah, Kepala Dinas Bina Marga Kota Semarang Iswar Aminnudin mengatakan, pihaknya sudah menganggarkan dana pembangunan jembatan tersebut sekitar Rp 5 miliar. Anggaran untuk memperbaiki dua jembatan, yakni jembatan Ampongsari dan Sendangguwo yang saat ini terputus.
”Sekarang masih tahap pembuatan DED (detail engineering design), setelah itu dibangun. Belum tahu apakah nanti tetap jembatan gantung atau beton. Kita lihat anggarannya cukup atau tidak,” tandasnya.
Banjir Genuk
Sementara itu, Kondisi banjir di wilayah Kelurahan Gebangsari, Kecamatan Genuk, masih sangat memperihatinkan. Utamanya, di kawasan Perumahan Genuk Indah. Air menggenangi hampir seluruh kawasan tersebut. Hingga petang kemarin (20/1), genangan air masih cukup tinggi. Ketinggian air dari 20-50 sentimeter. Banjir sulit surut karena tidak bisa terbuang ke Kali Tenggang. Warga setempat mendesak Pemkot Semarang segera menyelesaikan normalisasi Kali Tenggang, yang sampai saat ini masih terkendala pembebasan lahan.
”Kami mempertanyakan penyelesaian Kali Tenggang yang sampai saat ini belum tuntas. Kami minta ada ketegasan dari Pemkot Semarang terkait penyelesaian normalisasi Kali Tenggang. Karena sudah berlarut-larut. Pemkot harus bisa tegas terhadap warga yang belum bersedia membebaskan lahannya. Seharusnya genangan di Gebangsari ini, khususnya di Perumahan Genuk Indah, bisa terbuang di Kali Tenggang. Tapi kondisi sungainya sendiri sampai saat ini masih belum optimal, karena normalisasi terkendala pembebasan lahan,” ujar Mashut, 70, Koordinator RT/RW Kecamatan Genuk, di hadapan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan jajarannya, saat melakukan pantauan di kawasan tersebut, Senin (20/1).
Menurut Mashut, untuk mengatasi banjir di kawasan Gebangsari kuncinya ada di Kali Tenggang. Untuk itu, pihaknya meminta wali kota turun tangan menyelesaikan pembebasan lahan yang belum tuntas. ”Kali Tenggang harus selesai, kuncinya di situ. Jangan hanya janji-janji saja, tapi kenyataannya tidak ada tindakan tegas,” tegas Mashut.
Menanggapi hal tersebut, Hendrar Prihadi menyatakan siap turun ke lapangan untuk menemui warga yang belum bersedia melepaskan lahannya demi normalisasi Kali Tenggang. ”Memang untuk mengatasi banjir di kawasan Genuk ini obat yang paling manjur adalah normalisasi Kali Tenggang, tapi pelaksanaannya masih terkendala warga yang belum bersedia melepaskan tanahnya. Ini janji saya, warga (yang belum sepakat) akan saya datangi. Saya belum bisa memastikan hasilnya, tapi kalau memang belum mau akan saya agendakan pertemuan berikutnya, sampai ada solusi yang terbaik,” ujarnya.
Selain solusi Kali Tenggang, pemkot berencana mengalihkan genangan ke Kali Sringin. ”Kalau yang Kali Tenggang macet, nanti akan kita arahkan ke Kali Sringin. Selain itu, untuk pencegahan, saya berharap warga bisa menanam pohon sebanyak-banyaknya dan membuat biopori, sehingga penyerapan air bisa maksimal,” tandasnya.
Sementara itu, banjir yang menggenangi kawasan tersebut juga membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih. Banyak warga yang rela membeli air bersih menggunakan galon. Karena untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari seperti memasak, kondisi air saat banjir menjadi tidak layak.
”Banjir merendam permukiman di sini sudah lima hari ini. Akibatnya, kualitas air jadi jelek, tidak bisa buat masak. Terpaksa saya membeli air galon untuk memasak, kalau mandi masih bisa menggunakan sumur artesis,” ujar Rika Sutoto, warga Jalan Padi Tengah Gang 15 Perumahan Genuk Indah.
Warga RT 1 RW 4 itu mengaku setiap harinya membeli tiga galon untuk kebutuhan memasak. Menurutnya, banjir di daerahnya mulai tinggi sejak peninggian Jalan Padi Raya tidak diimbangi dengan pembenahan sistem drainase sekitar. ”Sebelum jalan ditinggikan memang banjir, tapi tidak sampai setinggi ini. Seharusnya, kalau jalan ditinggikan, saluran juga dibenahi,” ujarnya.
Menanggapi keluhan air bersih tersebut, wali kota yang akrab disapa Hendi ini menyatakan, warga yang membutuhkan air bersih bisa langsung melapor ke lurah setempat. Pemkot akan memasok air bersih kepada warga korban banjir.
”Selama ini belum ada laporan warga terkait kebutuhan air bersih. Kalau memang dibutuhkan, lapor saja ke lurah setempat nanti akan kita turunkan air bersih,” tandasnya.
Camat Genuk Sumardjo mengatakan, ada sekitar 1.500 rumah di wilayahnya yang terendam banjir. Sampai kemarin sekitar 75 persen masih tergenang air setinggi 30-50 sentimeter. Terbanyak terjadi di Kelurahan Gebangsari, Genuksari, Banjardowo, dan Muktiharjo Lor. Selain itu warga korban banjir juga mulai terkena panyakit.
”Posko pengobatan gratis telah didirikan, untuk melayani warga yang di antaranya terkena penyait flu dan gatal-gatal, baik anak-anak maupun lansia,” teranganya.
Dapur umum di tiga kelurahan yang terendam banjir juga sudah didirikan. Ini untuk membantu kebutuhan logistik korban banjir dengan koordinasi bersama BPBD. Namun sementara ini, belum sampai ada korban banjir yang mengungsi, dan diharapkan genangan air segera menyusut.
Hingga kemarin, banjir juga masih melanda wilayah Kecamatan Semarang Utara, khususnya di Kelurahan Dadapsari, Tanjung Mas, Kuningan, dan Bandarharjo. Sebanyak 4 ribu rumah warga dilaporkan masih tergenang banjir. Warga terpaksa mengungsi di tempat yang aman dari banjir, di antaranya di musala dan masjid setempat. (zal/aro/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...

Air Semut

Kota ini di tengah Gurun Gobi. Jaraknya empat jam dari kota di baratnya. Juga empat jam dari kota di timurnya. Kota yang di barat itu,...
- Advertisement -

Random News

Cawagub Ida Fauziyah Sowan Kiai NU

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Cawagub Ida Fauziyah bersama rombongan kemarin bersilaturahmi dengan para kiai Nahdlatul Ulama (NU) di gedung PCNU Demak, Jalan Sultan Fatah. Yang...

Tiga Desa Zona Bahaya Gunung Merapi Menolak

"Warga melakukan perlawanan dengan memasang spanduk warna putih dan menggalang tanda tangan, sebagai bukti penolakan.” PURNOMO MAGELANG—Tiga desa di Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, menolak penambangan dengan...

Jual Obat Mercon, Lebaran di Bui

MAGELANG – Meski sudah dilarang, Nur Irwan, 51, seorang kakek asal Desa Banyuwangi, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang nekat meracik dan menjual obat mercon/petasan di...

Bangun ’Masjid’ Dari 6.274 Botol Bekas

SEMARANG — Kreatif, manajemen Star Hotel membuat replika masjid dari 6.274 botol bekas air mineral. Tidak sekadar sebagai pajangan, namun replika masjid tersebut juga...

More Articles Like This

- Advertisement -