Petani Krisan Waswas Cuaca

124

BANDUNGAN — Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah—salah satunya Kabupaten Semarang—membuat sejumlah petani bunga Krisan. Mereka khawatir bunga-bunga yang siap panen rusak, karena tersapu angin.
Rusaknya pertanian bunga Krisan pernah terjadi setahun lalu, hingga menyebabkan petani di Bandungan hingga Sumowono menderita kerugian ratusan juta. Kerusakan tidak hanya terjadi pada bunganya saja. Melainkan bedeng pelindung tanaman (berbentuk rumah bambu beratap plastik, Red).
Salah seorang petani bunga Krisan, Abdul Mutolip, 29, menuturkan, sejumlah petani mulai ketar-ketir, menyusul cuaca ekstrem yang terjadi. Menurut dia, curah hujan yang tinggi, tidak memengaruhi produktivitas bunga. Namun, yang dikhawatirkan angin kencang akan merobohkan bedeng-bedeng petani. Sebab, menurut Mutolip, tahun lalu petani merugi karena pertaniannya disapu angin.
”Kalau bedeng-nya roboh, kerugiannya besar. Sebab, selain bedeng-nya rusak, bunganya juga ikut rusak. Jadi, kerugiannya dobel. Belum lagi kita harus menunggu waktu lagi untuk menanam,” ujar Mutolip, Minggu (19/1) kemarin.
Mutolip mengatakan, yang dilakukan para petani saat ini adalah memperkuat bedeng, dengan penopang tambahan. Selain itu, para petani juga melakukan pemantauan rutin.
Kini, petani setiap hari sudah bisa memanen. Karena itu, jika sampai ada kerusakan karena faktor cuaca buruk, maka petani akan rugi besar.
”Kita sudah menerapkan sistem tanam rotasi dengan jarak satu hari hingga seminggu. Sehingga petani dapat memanen setiap hari.”
Terkait harga, menurut Mutolip, harga Krisan tidak tentu. Artinya, tergantung banyak sedikitnya bunga dan permintaan. Saat ini, harga Krisan anjlok hingga Rp 4 ribu/ikat (10 tangkai).
Padahal, jika musim hajatan atau hari raya, harga per ikat mencapai Rp 15 ribu bahkan lebih. Harga bunga akan terus anjlok, ketika suplai bunga di pasar bunga Bandungan meningkat. Utamanya, dari luar daerah.
Kepala Bidang Pertanian Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Semarang, Fadjar Eko mengklaim, pihaknya sudah memberikan sosialisasi tentang hama dan cuaca yang akan memengaruhi hasil pertanian. Sebab, tahun sebelumnya, petani Krisan merugi karena tanaman rusak disapu angin. (tyo/isk/ce1)