Di tengah kepungan banjir setinggi 1 meter, seorang ibu muda dari Desa Tratebang RT 07 RW 03, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, terpaksa dievakuasi. Si ibu muda bernama Puput Trianingsih, 23, dievakuasi ke rumah sakit, karena hendak melahirkan. Padahal, rumahnya kebanjiran setinggi 1 meter.
Agus Trinianto, 26, suami Puput Trianingsih mengaku bingung saat istrinya hendak melahirkan. Padahal, banjir di rumahnya setinggi 1 meter. Satu sisi, untuk menuju jalan raya, harus berjalan sejauh 1 kilometer. ”Saya hanya bisanya bingung saja, karena ini kehamilan anak pertama,” tutur Agus.
Akhirnya, Agus melapor ke Posko Bencana Kabupaten Pekalongan, di kantor Kecamatan Wiradesa. Ia meminta bantuan untuk mengevakuasi istrinya agar bisa melahirkan di RSUD Bendan. ”Jam 5 pagi saya langsung ke posko, minta bantuan evakuasi,” kata Agus yang bekerja di Jakarta.
Saat dievakuasi, Puput menuturkan, pada Minggu (19/1) menjelang subuh, perutnya mules seperti hendak melahirkan. Karena rumahnya kebanjiran hingga 1 meter, ia hanya bisa pasrah dan menunggu bantuan. ”Saya hanya nangis saja, sambil menunggu bantuan datang.”
Kepala Basarnas Semarang Agus Haryono yang memimpin evakuasi menjelaskan, Basarnas Semarang sudah berada di lokasi banjir–khususnya di Desa Tratebang– sejak Sabtu (18/1) malam.
Menurut dia, Tim Basarnas SAR Semarang sudah mengevakuasi lebih dari 1.000 warga korban ke posko pengungsi. Termasuk, Puput yang akan melahirkan.
Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan, Bambang Jatmiko, mengatakan, korban banjir yang hendak melahirkan dan berhasil dievakuasi, ada dua orang. Yakni, Rita Inawati, 29, warga Desa Sepacar RT 02 RW 03, Kecamatan Tirto dan Puput Trianingsih.
”Korban banjir yang akan melahirkan, sementara kita rawat di Puskesmas. Jika ada rujukan ke rumah sakit, langsung kita bawa ke RSUD Kraton.” (thd/isk/ce1)