7.000 Warga Mengungsi

127

Keluhkan MCK, Tak Ada Bantuan Makanan Bayi
KAJEN — Banjir di wilayah Jawa Tengah terjadi di mana-mana, menyusul curah hujan tinggi sejak tiga hari terakhir. Di Kabupaten Pekalongan, banjir terjadi sejak Jumat (17/1) lalu hingga kemarin.
Ketinggian air mencapai 1,5 meter. Banjir merendam 53 desa di 5 kecamatan. Yakni, Kecamatan Tirto, Siwalan Sragi, Buaran dan Wonokerto. Akibatnya, 7.000-an warga harus diungsikan di 12 lokasi tempat pengungsian. Minggu (19/1) siang kemarin, merupakan banjir hari ke-3.
Banyaknya lokasi banjir, menyebabkan akses jalan menuju antar-kecamatan ditutup warga, seperti di Kecamatan Buaran.
Tercatat, ada 12 lokasi pengungsian. Posko pengungsian Kopindo di Kelurahan Bener, Kecamatan Wiradesa, menampung 850 warga. Mereka berasal dari 4 desa. Yakni, Desa Mulyorejo, Jeruksari, Karangjompo, Tegaldowo, Pucung, dan Desa Sepacar, Kecamatan Tirto. Juga Desa Api-api dan Pecakaran, Kecamatan Wonokerto
Banyaknya warga yang mengungsi dan minimnya sarana MCK, mengakibatkan sejumlah warga menderita gatal-gatal dan sesak pernapasan.
Bantuan telah diberikan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan kepada para pengungsi. Yaitu, berupa sembako dan sarung. Padahal, yang paling dibutuhkan warga adalah selimut, makanan bayi, serta pakaian layak pakai untuk anak-anak. Mengingat semua pakaian yang ada hanyut terbawa arus banjir.
Sayuti, 34, warga Desa Jeruksari RT 06 RW 03, Kecamatan Tirto, menuturkan, dua anaknya yang masih balita, Nita, 7 bulan dan Rangga, 3 tahun, sangat membutuhkan makanan bayi.
”Saya harus bekerja mencari nafkah. Anak saya tidak lagi minum ASI. Sekarang, saya tidak bekerja, karena banjir. Anak saya nangis terus minta susu instan,” ungkap Sayuti, sambil menggendong anaknya yang rewel.
Sayuti juga mengeluhkan minimnya sarana MCK di pengungsian Kopindo, yang sekaligus digunakan untuk Posko Kesehatan Bencana.
Menurut dia, mestinya Pemkab membantu menyediakan air bersih dari PDAM atau menambah MCK yang ada di pengungsian. ”MCK yang ada, hanya 2. Setiap hari berebut dengan warga. Mau pulang juga jauh,” kata Sayuti yang suaminya bekerja di Jakarta.
Petugas kesehatan di Posko Kesehatan Bencana, Khafido, membenarkan banyak pengungsi yang membutuhkan makanan bayi dan mengeluhkan minimnya MCK.
Menurut dia, BPBD hanya memberikan jatah makan dari dapur umum, sembako, dan sarung. Artinya, tak ada bantuan makanan bayi dan selimut. ”Banyak warga yang minta makanan bayi, pampers dan selimut. Tapi posko tidak menyediakan. Yang ada, hanya minuman mineral gelas saja,” kata Khafido.
Khafido menjelaskan, akibat minimnya MCK, banyak warga yang menderita diare, gatal-gatal, mual dan sesak pernapasan. Utamanya, anak-anak.
”Dalam sehari, ada 200 hingga 300 warga yang berobat, sebagian besar sesak nafas, diare, gatal-gatal, darah tinggi, mual dan muntah.”
Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan, Bambang Jatmiko, menuturkan, hingga saat ini, ada 7 ribu warga yang mengungsi, karena besarnya banjir.
Dikatakan, selain TNI Yonif 710 dan Polres Pekalongan, bantuan dari luar kota juga sudah masuk. Yaitu, Tim SAR dari Kabupaten Tegal, Brebes dan Basarnas Provinsi Jawa Tengah. ”Tim SAR dan Basarnas sudah melakukan evakuasi pengungsi, jumlahnya mencapai 7.000 orang.”
Bambang Jatmiko mengatakan, hingga saat ini pihaknya butuh bantuan dari berbagai pihak. Utamanya, perlengkapan anak dan bayi seperti makanan bayi dan pakaian. (thd/isk/ce1)