Flu Burung Serang Kandri

169

Ratusan Bebek Mati Mendadak
KANDRI — Di awal 2014, wabah flu burung kembali menyerang Kota Semarang. Kali ini, ratusan ekor bebek milik Asbari, 51, warga RT 1 RW 1 Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati dilaporkan mati mendadak dalam kurun waktu satu minggu.
Hasil uji laboratorium dari sampel bangkai bebek yang dikirim Dinas Pertanian Kota Semarang ke laboratorium di Boyolali, memastikan unggas yang mati tersebut positif terkena virus avian influenza (AI) alias flu burung (H5N1).
”Awalnya kami mendapat laporan ada 30 ekor bebek milik warga Kandri yang mati mendadak, setelah itu menyusul laporan lagi yang mati mencapai ratusan ekor. Dari situ kita langsung mengambil sampel untuk dicek laboratorium di Boyolali. Hasilnya, hari ini (kemarin) sudah diketahui positif flu burung disertai penyakit Newcastle Diseases (ND) atau tetelo,” terang Kepala Dinas Pertanian Kota Semarang Rosdiana kepada Radar Semarang, Jumat (17/1).
Terkait temuan tersebut, pihaknya langsung melaporkan ke Dinas Pertanian Provinsi Jateng dan Pusat. Sebagai langkah antisipasi, pihaknya langsung melakukan sterilisasi dan isolasi kandang selama 14 hari. Selama isolasi, unggas tidak boleh dikonsumsi, dijual, maupun digembala.
”Selama isolasi hanya boleh melakukan aktivitas pembersihan kandang, pemberian makan. Tidak boleh divaksin,” katanya.
Disinggung penyebab terjangkitnya virus AI, Rosdiana menduga ada kontak orang yang membawa virus ke kandang tersebut melalui vaksin. ”Diduga virus itu dari vaksin yang diberikan,” ujarnya.
Pihaknya mengimbau, kepada peternak atau pemilik ternak yang memiliki unggas di atas 100 ekor harus melapor. Karena selama ini banyak peternak yang tidak melapor, dan baru melapor ketika terjadi kasus seperti ini.
”Kasus di Kandri ini adalah yang pertama di tahun 2014. Dan selama ini pemilik juga tidak melapor sebagai peternak, tapi setelah ada kasus ini baru melapor. Kami mengimbau agar pemilik teratur dan menjaga kebersihan kandang, serta pemberian makan dan vaksin. Kalau dibutuhkan, vaksin bisa diperoleh di Dinas Pertanian,” katanya.
Saat musim hujan, kata Rosdiana, harus lebih waspada karena kondisinya lembab memicu perkembangan bakteri dan virus. ”Selama ini, kasus flu burung lebih banyak menyerang ayam. Tapi, sekarang unggas lain seperti itik yang sistem kekebalannya lebih tinggi juga dapat terserang, karena virus flu burung telah berevolusi,” terangnya.
Asbari mengaku kaget dengan kematian bebeknya dalam jumlah besar. Selama 10 tahun menjadi peternak bebek, baru kali ini bebeknya mati secara masal dalam waktu singkat. Kematiannya diawali dengan gejala tidak mau makan, lemas, dan matanya buta.
”Kematiannya bertahap, tidak serta-merta langsung ratusan ekor. Sejak tanggal 4 Januari, bebek saya mati empat ekor, gara-gara tidak mau makan, jalannya juga gentoyoran. Saya kemudian tanya ke tetangga yang kebetulan mantri peternakan, dan setelah diperiksa ternyata mata bebek rabun tidak bisa melihat. Tapi tidak tahu penyebabnya,” jelas ayah empat anak ini.
Selama satu minggu, bebek yang mati mencapai puluhan. Sebelumnya, suami dari Mardiyani ini, memiliki 145 ekor bebek jenis pedaging dan indukan atau petelur sebanyak 60 ekor. Namun sampai kemarin, yang hidup tinggal 70 ekor. ”Terakhir mati, kemarin satu ekor. Tapi ini masih ada dua yang tetelo (ND),” tandasnya.
Dia mengaku sudah mendapat obat dari Dinas Peternakan. Pihaknya juga diminta untuk tidak mengeluarkan bebek dari kandang selama 14 hari. Ketika disinggung mengenai flu burung dan adanya kemungkinan bebek miliknya akan dimusnahkan, Asbari mengaku pasrah. Namun pihaknya meminta ada ganti rugi.
”Kalau memang mau dimusnahkan ya harus ada gantinya. Tapi ini sudah dikasih obat dari Dinas Pertanian dan sudah saya berikan rutin sesuai arahan,” ujarnya.
Pantauan Radar Semarang, kandang bebek milik Absari terletak persis di belakang rumah, bahkan menempel rumah bagian belakang. Di dalam kandang berbentuk huruf L itu masih ada puluhan bebek yang terlihat sehat. Namun di sisi kandang lain, ada beberapa ekor bebek yang kondisinya memperihatinkan, terkena tetelo.
Ironisnya, meski diminta mengisolasi tempat tersebut, keluarga Asbari tetap beraktivitas seperti biasa. Putra Asbari yang masih berumur 8 tahun pun tetap beramain di dekat kandang. Asbari juga tetap memegang bebek yang tidak sehat itu tanpa mengenakan masker maupun pelindung tangan. Padahal, berdasar imbauan Kepala Dinas Peternakan, Rosdiana, selama 14 hari, tidak boleh ada yang mendekati kandang, kecuali memberi makan, itu pun harus menggunakan peralatan pelindung.
Lurah Kandri Akhiyat mengatakan, di Kelurahan Kandri hanya ada dua peternak bebek, namun yang satu sudah tidak aktif, tinggal milik Asbari. Menyikapi kasus flu burung tersebut, pihaknya akan mengambil langkah antisipasi agar virus flu burung tidak menyebar dan menjangkiti warga. ”Pemilik bebek akan mendapat perhatian khusus. Kami akan melakukan pemantauan secara rutin. Arahan dari Dinas Pertanian kami pastikan pemilik menjalankan. Seperti isolasi kandang selama 14 hari,” katanya.
Jika selama masa isolasi masih ada bebek yang mati, lanjut Akhiyat, maka pihaknya akan mengambil langkah pemusnahan dengan cara membakar semua bebek dan kandangnya. ”Kita akan coba memberi pengertian kepada pemilik kalau virus ini berbahaya. Jalan satu-satunya harus dimusnahkan. Masalah ganti rugi kita akan usahakan,” tandasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Widoyono menyatakan, penularan virus flu burung H5N1 dari unggas kepada manusia bisa melalui kotoran unggas, sekret atau lendir/air liur, dan darah. ”Tapi yang paling mungkin itu kotorannya sama air liur atau lendir unggas. Jadi, kalau sudah dinyatakan positif flu burung, itu peternak harus waspada. Harus memakai pelindung saat berinteraksi dengan unggas. Walaupun tingkat penularan virus tersebut ke manusia sangat kecil, tapi itu bisa terjadi kalau tidak waspada,” ujarnya.
Pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan melakukan penyuluhan kepada warga sekitar melalui puskesmas setempat. ”Kami akan terjunkan tim dari puskesmas, kita beri penyuluhan dan kewaspadaan terhadap flu burung. Yang paling penting saat ini peternakannya harus diisolasi,” terangnya.
Menurut Widoyono, harus dilakukan penelitian lebih lanjut terkait virus H5N1 tersebut. Karena selama ini, flu burung hanya menjangkit ayam, karena daya tahan itik lebih tinggi daripada ayam. ”Apakah semua yang mati itu positif H5N1 harus dilakukan penelitian, termasuk virusnya apakah bermutasi sehingga bisa menyerang itik,” tandasnya. (zal/aro/ce1)