Banjir 1 Meter, Warga Terancam Kelaparan

159

KAJEN — Hujan deras yang turun sejak seminggu terakhir menyebabkan sejumlah sungai meluap. Di antaranya, Sungai Winong di Kecamatan Sragi, dan Sungai Miduri di Kecamatan Tirto.
Akibatnya, luapan sungai menggenangi ratusan rumah warga di sejumlah desa. Antara lain, Desa Jeruksari, Mulyorejo, Tegaldowo, Karang Jompo, Kecamatan Tirto, dan Desa Sijambe,Wonokerto Kulon dan Wetak, serta Desa Pecakaran, ecamatan Wonokerto. Genangan air rata-rata 50 sentimeter hingga 1 meter.
Banjir juga melanda Desa Kertijayan, Kecamatan Buaran, Desa Gebangkerep, Kecamatan Sragi dan Desa Dadirejo, Desa Pucung, Kecamatan Tirto. Padahal, dua desa itu selama ini tidak pernah terendam air.
Dampaknya, warga terancam kelaparan. Sebab persediaan sembako mulai menipis. Hal itu diperparah tidak adanya alat untuk memasak karena kebanjiran. Bahkan, akses jalan ke Kota Pekalongan melalui Kelurahan Buaran sempat terputus, karena tingginya banjir.
Pengurus RT 06 RW 03 Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto, Suroto, mengatakan, ratusan warga mulai kesulitan makanan. Sebab banjir yang masuk ke rumah mencapai ketinggian hingga 1 meter lebih. Akibatnya, semua peralatan masak terendam banjir.
Suroto dan warga lainnya menuturkan, banjir tahun ini yang terbesar. Lebih dari seminggu, sebagian warga tidak bisa bekerja. Persediaan sembako pun mulai menipis.
”Kita makan seadanya. Masak beras pun dilakukan di rumah warga lain yang tidak banjir, bersama-sama warga lain. Sebagian besar rumah, termasuk dapur, terendam banjir. Kita kesulitan untuk memasak dan barang kebutuhan yang dimasak pun sudah mulai langka, karena kami tidak bekerja,” ungkap Suroto.
Kondisi yang demikian, dibenarkan Kepala Dusun Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto, Abdul Rozak. Menurut Rozak, dari 1.700 rumah yang ada, 900 rumah terendam banjir. Ketinggian air bervariasi, mulai 40 sentimeter hingga 1 meter. ”Banjir kali ini sangat besar, 80 persen rumah warga terendam air, sehingga menyulitkan aktivitas warga,” kata Rozak.
Kepala Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Mubarok, menambahkan, sebagian besar warga sudah tidak bekerja, karena sawah dan tambak mereka terendam banjir. Pun, para buruh jemur ikan, mulai dirumahkan, karena ikan sulit diperoleh.
Menurut Mubarok, pihaknya sudah memberikan laporan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
”Yang dibutuhkan warga saat ini adalah makanan, karena warga sudah lama tidak bekerja. Persediaan sembako di rumah warga nyaris tidak ada. Jika tidak ada bantuan, warga terancam kelaparan,” terang Mubarok.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kabupaten Pekalongan, Bambang Jatmiko, mengatakan, BPBD sudah mendistribusikan bantuan. Bantuan ditempatkan di kantor kecamatan. Yaitu, berupa sembako, dan karung pasir untuk menahan tanggul yang jebol.
Bambang mengatakan, kepala desa harus aktif memberikan laporan atau menjemput bantuan, jangan hanya menunggu. ”Saya berharap kepala desa yang proaktif, terus mengomunikasikan dengan kami, semua bantuan sudah kita letakkan di kantor kecamatan yang desanya selama ini rutin terjadi bencana banjir.” (thd/isk/ce1)