Pedagang Pasar Diajak Diskusi

163

WONOSOBO—Bupati Wonosobo Abdul Kholiq Arif, kemarin (15/1) pagi mengajak para pedagang dari sejumlah pasar di Wonosobo sarapan pagi bersama di pendopo kabupaten. Usai sarapan, para pedagang diminta mengutarakan keluh kesah tentang kondisi pasar, sekaligus diminta menyampaikan gagasan penataan pasar.
Sarapan pagi pukul 07.00 ini dihadiri perwakilan pedagang pasar, meliputi Pasar Induk Wonosobo, Pasar Kertek, Selomerto, Leksono, Sapuran, Kaliwiro, Wadaslintang serta pedagang kaki lima (PKL). Para pegawai dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan juga dilibatkan dalam forum tersebut.
Pada kesempatan tersebut, Kholiq memimpin diskusi dengan para pedagang. Dalam forum itu, Kho­liq mengajak semua pedagang untuk menyampaikan keluhan, sekaligus mengajak pedagang me­mikirkan desain sistem penataan pasar di kabu­paten dan kecamatan.
Harsono, dari Pasar Selomerto menyampaikan gagasan, bahwa pasar tradisional di kecamatan perlu dibangun agar lebih rapi. Tidak hanya bangunan pasarnya, namun ruang parkir dan bongkar muat juga harus dibangun. “Kami juga meminta kepada bupati menyikapi tentang perkembang­an pasar modern yang masuk ke kecamatan,” katanya.
Sedangkan Ketua Paguyuban Pasar Induk Wonosobo (PPIW), Munfari masih menegaskan hal yang sama, bahwa peraturan antara pasar modern dan tradisional harus ditegaskan. Terbitnya perda tersebut, menurut Munfari juga akan memberikan kenyamanan bagi para pedagang dalam melakukan aktivitas mereka di pasar. “Payung hukum terkait penataan pasar harus segera dituntaskan. Termasuk mengenai perda pasar modern,” tuturnya.
Menanggapi sejumlah keluhan pedagang, Kholiq mengatakan, bahwa Pemkab Wonosobo tidak akan lagi memberikan izin bagi pembukaan toko modern hasil franchise (waralaba) di seluruh wilayah, kecuali toko modern yang memang dimiliki oleh warga asli Wonosobo dan tanpa disertai modal asing. “Namun, kita juga harus berfikir, Perda Pasar Modern sudah dirumuskan. Namun kita malah belum punya Perda Pasar Tradisional? ”katanya.
Selain dibutuhkan perda pasar tradisional, Kholiq juga mengajak pedagang perlunya modernisasi pasar tradisional. Konsep moderninsasi pasar, menurut Kholiq sangat penting, mengingat konsumen juga membutuhkan pasar yang bersih dan nyaman untuk berbelanja.
“Saya meminta agar Dinas Perindustrian dan Perdagangan mengoordinasi pembentukan tim pengkaji yang akan bertugas melakukan analisa terkait penataan pasar tradisional berkonsep modern,” paparnya.
Kepada perwakilan pedagang pasar yang hadir, bupati meminta agar hasil pertemuan tersebut disosialisasikan kepada rekan-rekan mereka di pasar masing-masing, sekaligus menjadikannya sebagai bahan diskusi.
“Diskusi ini, akan kita lakukan lagi pada beberapa hari ke depan. Sehingga penataan pasar, bisa direncanakan oleh pedagang dan pemerintah. Agar ke depan semua pasar bisa berkembang dengan baik,” harapnya.
Terkait rekomendasi bupati mengenai tidak bolehnya penerbitan izin bagi toko waralaba, Kepala Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu (KPPT), Didiek Wibawanto, mengaku siap melaksanakan. Dengan adanya rekomendasi tersebut, Didiek juga akan segera melakukan koordinasi dengan dinas-dinas terkait agar tidak terjadi kesalahan persepsi di lapangan. “Izin-izin yang telah keluar untuk 19 toko waralaba di Kabupaten Wonosobo, juga tak lepas dari koordinasi dengan dinas dan instansi terkait,” ujarnya. (ali/lis)