WONOSOBO— Geliat warga Wonosobo melestarikan seni tari tradisional terus berkembang. Bahkan peminatnya tidak melulu orang Jawa, namun sejumlah anak Tionghoa juga tertarik mempelajari dan melestarikan warisan budaya Indonesia ini. Seperti tampak dalam ujian akhir semester gasal Sanggar Satria Wonosobo, di Allure Sabtu akhir pekan lalu.
Ujian akhir semester Sanggar Satria Wonosobo, digelar sejak pukul 12.00 WIB, di panggung pertunjukan pusat pujasera Alllure. Selama pertunjukan, dijubeli ra- tusan penonton, tidak hanya para wali murid, namun juga pengunjung umum ikut menyaksikan.
Menurut pimpinan Sanggar Satria, Waket Prasudi Puger, ujian, diikuti oleh 64 siswa. Ujian ini, dilakukan sebagai bahan evalu- asi peserta didik seni tari di sanggarnya, sekaligusmenunjukkankeseriusansanggar dalam melatih para siswa, sehingga ujian ini seperti rapor di sekolah formal.
“Dengan adanya ujian ini, orang tua siswa bisa mengetahui perkembangan anak dalam menekuni dunia seni, selain para siswa semakin serius dalam berlatih,” katanya.
Waket mengatakan, peserta ujian, berasal dari berbagai kelas dan usia. Sesuai kuri- kulum pendidikan sanggar satria, siswa tersebut terbagi dalam 4 kelas, yakni kelasdasar sebanyak 21 orang yang berasal dari siswa PAUD dan TK, kelas A 13 orang yang berasal dari kelas 1,2 dan 3 SD, kelas B 10 orang yang berasal dari kelas 4,5 dan 6 SD serta kelas dewasa 20 orang yang berasal dari siswa SMP sampai mahasiswa.
“Bervariasinya usia peserta ujian tidak
SAMBUNGAN BERITA
menjadi masalah, sebab materi ujian disesuaikan dengan tingkat usia,” ujarnya Menariknya, untuk tahun ini, para peser- ta didik terus bertambah. Bahkan yang menekuni pendidikan seni tari Jawa di sang- gar yang berdiri sejak 1998 oleh Suwoko (alm) itu, terdapat murid baru berasal dari warga Tionghoa. Mereka menempati kelas pemula dasar, kelas B serta kelas dewasa. “Sejak tahun ini, ada beberapa murid
dari warga Tionghoa. Mereka senang dan tertarik belajar tari Jawa,” imbuhnya.
Tokoh Tionghoa Wonosobo Wong Kim Sin mengatakan, tari merupakan seni hasil perkembangan budaya. Hal ini harus terus dilestarikan, termasuk kepada generasi anak- anak. Menurutnya, akulturasi budaya telah menyatukan warga dari berbagai asal usul nenek moyangnya. “Semua warga Indonesia, termasuk kami punya kewajiban untuk melestarikan seni tari Indonesia,” ujarnya.
Dalam ujian tersebut, hadir sebagai dewan penguji meliputi, Yoyok B Priambodo dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah, Ludiro Panjtoko seniman tari Jawa Tengah, Enang Basuki dari Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Wonosobo, Heru Triwijayanto dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo.
Yoyok B Priambodo dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah me- nyampaikan bahwa ujian tari ini bisa menjadi upaya pembinaan dan pelestarian seni tradisional yang berkembang di masyarakat, sekaligus upaya revitalisasi seni tari yang ada saat ini, sehingga tidak akan punah ditelan perubahan zaman. (ali/lis)