Bentuk Karakter, Siswa Digembleng TNI

199

MAGELANG—Pendidikan militer di TNI ditularkan ke sejumlah siswa SMP Muhammmadiyah Plus Muntilan. Mereka digembleng oleh Batalyon Artileri Medan 11 (Yon Armed 11) Kota Magelang untuk membentuk karakter dan kedisiplinan.
Waka Kesiswaan Iwan Setiawan menggatakn ada 76 siswa kelas 8 yang dikirim ke markas Yon Armed Guntur Geni. Selama dua hari, para pelajar digembleng disiplin militer. ”Ini sudah rutin kita laksanakan. Untamanya untuk menguatkan mental juara yakni disiplin, memiliki jiwa sportif, patuh pada pelatih dan guru, kerja keras, konsisten dan mampu menjaga ambisi untuk maju. Siswa kami harus mempunyai ambisi dan mentalitas juara,” ujar dia.
Dia mengatakan di Armed 11 siswa-siswinya didampingi tutor militer dan dari internal sekolah. Harapannya penyerapan materi bisa maksimal. Selain itu, hasil yang diperoleh bisa ditindaklanjuti dengan penerapan di sekolah. ”Kami sudah empat tahun mengirim siswa ke Armed. Hasilnya memang beda. Sepulang dari sana, siswa menjadi lebih mudah diarahkan sehingga proses belajar mengajar lebih maksimal. Anak didik kami menjadi lebih pintar dan banyak prestasi,” kata Iwan.
Guru BK SMPM Plus Gunungpring Emy Priyati, SPSi mengatakan para siswa dijemput dari sekolah dengan menggunakan truk militer. Kegiatan di Armed 11 di antaranya baris berbaris dan kegiatan lain ala militer. Siswa putra juga harus potong rambut cepak seperti TNI.
Disebutkan bahwa kegiatan penggemblengan dan pembentukan karakter ini dilakukan karena siswa SMPM Plus berasal dari latar belakang berbeda. Mereka juga memiliki karakter beda sehingga perlu dibangun kebersamaan dan persatuan.
”Kami meyakini mental siswa itu bisa dibentuk sesuai keinginan individu. Konsep diri anak itu memang bisa dibentuk. Dari penggemblengan ini kami membangun karakter siswa yang memiliki sopan santun, etika pada orang lain dan juga diri sendiri,” jelasnya.
”Juara tidak identik dengan menjadi nomer satu. Jika kita kalah dan mengakui keunggulan orang lain maka kita bisa juara untuk diri sendiri maupun lingkungan. Yang penting adalah siswa meyakini bahwa saya bisa, saya mampu. Tidak boleh ada kata menyerah,” tegas dia. (vie/lis)