38 Rumah di Lereng Menoreh Retak

142

MUNGKID–Ancaman bencana alam di Kecamatan Salaman Kabupaten Magelang terus mengintai. Baru-baru ini, sebanyak 38 rumah terancam ambles setelah tanah di bawahnya retak.
”Rekahan tanah dan rumah retak ini sebelumnya bermula pada tahun 2006, dan terus muncul setiap tahun hingga di musim hujan tahun ini. Sekarang memang semakin meluas,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Joko Sudibyo, kemarin.
Pantauan koran ini, rekahan tanah tersebut terbagi menjadi tiga jalur, panjang rekahan di setiap jalur bervariasi mulai dari 100 meter hingga 200 meter. Lebar rekahan tanah juga bervariasi mulai dari satu sentimeter hingga 20 sentimeter.
Rekahan tanah ini berpotensi menjadi bencana longsor atau tanah ambles. Warga setempat juga sudah berupaya mengantisipasi potensi bencana tersebut dengan mengisi rekahan dengan tanah dan menambal dinding rumah yang retak.
Apalagi, tahun 2011 lalu, rekahan tanah ini menyebabkan satu rumah milik warga, roboh. ”Secepatnya kita akan melakukan penelitian khusus terhadap gejala rekahan tanah ini karena selalu muncul, berulang-ulang terjadi setiap tahun,” ujarnya. Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Magelang, Aris Prijatno, mengatakan, di Kabupaten Magelang sudah dipasang empat alat deteksi bencana (early warning system) di empat desa di empat kecamatan.
Empat desa tersebut adalah di Desa Baleagung di Kecamatan Grabag, Desa Genito di Keca­mat­an Windusari, Desa Ngargoretno di Kecamatan Salaman, dan Desa Salamkanci di Kecamatan Bandongan.
Kendatipun demikian, menurut dia, alat deteksi tersebut tidak berfungsi efektif karena baru mengeluarkan suara sirine saat longsor sudah terjadi. ”Lebih baik warga tetap memakai cara tradisional seperti yang sudah diterapkan di masa lalu,” ujarnya.
Cara tradisional yang dimaksud antara lain adalah dengan teliti mengamati dan mengisi rekahan tanah yang muncul dengan pasir atau tanah. Selain itu, deteksi gempa juga bisa dilakukan dengan memasang batang-batang kayu yang terikat satu sama lain dengan tali.
”Jika tali mulai terlihat kendor, maka bisa disimpulkan telah terjadi gerakan tanah dengan kekuatan lemah. Jika salah satu batang kayu mulai ambruk, maka warga diminta segera mengungsi karena hal itu menjadi indikasi akan segera terjadi longsor,” kata dia. (vie/lis)