Rencana TPA Regional Mandek

149

MUNGKID— Rencana pembangunan TPA regional antara Pemkab dan Pemkot Magelang belum juga menemukan titik terang meski telah ada MoU antarkedua pemerintah daerah itu. Permasalahan mendasar ada pada penyusunan studi kelayakan (feasibility study) TPA regional yang belum ditentukan instansi pengampunya.       
”Selain itu, pembangunan infrastruktur pengangkutan sampah dari hulu ke hilir juga belum disusun. Saya berharap bisa segera diseriusi lagi,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Energi dan Sumber Daya Mineral (DPU-ESDM) Kabupaten Magelang, Sutarno, kemarin.     
Belum lagi, katanya, pengadaan lahan seluas 14 hektare juga belum terealisasi. ”Sebenarnya pembahasan TPA (tempat pembuangan akhir) sampah sudah dimulai dengan penandatanganan MoU antara Bupati Magelang, Wali Kota Magelang dan Pemrov Jateng pada 2013 lalu. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” katanya.     
Menurutnya, seluruh pihak seperti pemkab, pemkot dan pemrov supaya didukung pemerintah pusat, dalam hal ini Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).
Lebih lanjut dikatakannya, sejauh ini pola pengelolaan sampah kota dan kabupaten belum optimal.       
”TPA sampah di Desa Banyuurip, Tegalrejo di wilayah kabupaten dipenuhi setiap hari dari sampah Kota Magelang sekaligus kabupaten. Kondisi sekarang sudah overload,” terangnya.       
TPA regional bertujuan menampung sampah lebih banyak jika dibanding TPA Banyuurip seluas 3 hektare yang tinggal dua tahun lagi usia produktifnya. Setiap hari, sekitar 300-400 meterkubik sampah dibuang ke sini.
Secara teknis, dibutuhkan lahan minimal 14 hektare di TPA regional yang menampung sampah dari tempat pembuangan sementara (TPS) di tiga lokasi di Kota Magelang dan tujuh lokasi di Kabupaten Magelang.       
”Agar program ini berhasil, kami berharap pemprov segera membuat feasibility study. Di sini, pemkab bersedia mencarikan lokasi TPA sekaligus mengelolanya,” lanjut dia.       
Adapun model open dumping dalam pengelolaan sampah akan tetap dipakai. Untuk beralih ke metode lebih ramah lingkungan, instansi terkait terkendala pemilahan sampah di tingkat rumah tangga belum dapat berjalan efektif.
Kepala Bappeda Pemerintah Kota Magelang Joko Soeparno mengatakan, pembuatan TPA regional diyakini sebagai solusi atas permasalahan di TPA Banyuurip. Lokasi yang terletak di area pemukiman penduduk tidak laik untuk dipakai tempat sampah.     
”Tidak terdapat lahan layak di kota untuk tempat pembuangan sampah. Diharapkan TPA regional segera terealisasi. Kami juga terus mendorong pemprov segera turun tangan,” terangnya.     
Sejauh ini, pemkot terus melakukan optimalisasi tempat pembuangan sementara (TPS) terpadu yang ada di tiga titik. Yakni Wates, Tidar, dan Jurang Ombo. (vie/lis)