Jumlah Anggota DPRD 51 Orang

173

Buntut Perpecahan Pimpinan

MUNGKID—Kisruh internal DPRD Kabupaten Magelang terus meruncing. Kemarin, dua kubu lembaga legislator itu melantik sejumlah anggota DPRD pergantian antarwaktu (PAW) di tempat yang berbeda.
Kubu Susilo SPt menggelar rapat paripurna di gedung DPRD setempat. Hadir 23 anggota DPRD dan sejumlah tamu undangan terkecuali pejabat Pemkab Magelang.
Agenda rapat adalah pengusulan pemberhentian bupati Magelang dan pelantikan anggota DPRD.
Versi Susilo, ada dua anggota DPRD yang akan di PAW. Yakni anggota Fraksi PAN Agus Wahdan digantikan Nasikhul Hadi. Juga anggota Fraksi KNU Suharno digantikan H Adi Ashadi.
Namun, hanya Nasikhul Hadi yang dilantik oleh Susilo. Sementara H Adi Ashadi memilih dilantik oleh kubu lain yang dipimpin plt pimpinan Kuswan Haji.
Selama sidang paripurna di gedung DPRD ada hal yang menarik. Palu sidang menggunakan palu bangunan karena dibawa kubu Plt Kuswan Haji.
”Ya hari ini (kemarin), kita melaksanakan agenda pelantikan PAW dua anggota DPRD dari PAN dan PKNU, tapi yang dari PKNU memilih dilantik di tempat lain,” kata Ketua DPRD Kabupaten Magelang, Susilo.
Sementara itu, kubu Kuswan Haji menggelar rapat paripurna di Hotel Grand Artos Aerowisata. Hadir dalam rapat itu 20 anggota DPRD dan sejumlah pejabat Pemkab Magelang termasuk Plt Sekda, Agung Trijaya.
Agenda sidang paripurna ada­lah usulan pemberhentian bupati Magelang dan PAW tiga anggota DPRD. Yaitu, dari F PAN, FKNU dan F PDIP atas nama Susilo SPt.
Versi Kuswan Haji, Susilo telah digantikan oleh Suyanti. Sehingga saat ini jumlah anggota DPRD Kabupaten Magelang menjadi 51 orang karena Susilo menilai PAW tersebut tidak sah lantaran kasus pemecatan anggotanya di PDI P masih dalam proses hukum di Pengadilan Negeri.
Kuswan Haji mengatakan ra­pat paripurna awalnya akan dilaksanakan di gedung DPRD namun di waktu yang bersamaan pimpinan dewan lainnya mengagendakan acara yang sama.
”Pengalihan tempat ini bukan semata-mata kita tidak menghargai lembaga DPRD, kita sebagai anggota sangat menjunjung tinggi DPRD, namun karena force majoure, kalau kita laksanakan di gedung DPRD maka dikhawatirkan dapat terjadi hal hal yang tidak kita inginkan,” tegas Kuswan.
Menurutnya, PAW terhadap anggota DPRD kali ini mestinya untuk 3 orang sesuai SK asli Gubernur Jawa Tengah. “Namun karena secara fisik saudara Nasikhul Hadi tidak hadir maka hanya kami lakukan terhadap saudara Suyanti yang menggantikan Susilo dan Andi Ashadi menggantikan Suharno,” ujarnya.
Bupati Magelang Singgih Sa­nyoto dalam sambutanya yang dibacakan oleh Plt Sekda Agung Trijaya mengatakan bahwa DPRD disamping senagai lembaga perwakilan rakyat daerah, juga berkedudukan sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Selain itu DPRD juga merupakan mitra pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan. ”Anggaran dan pengawasan,” kata dia.
Oleh karena itu, lanjutnya, DPRD memegang peranan yang sangat strategis dalam pemberdayaan penyelenggaraan pemerintahan daerah dan akan menentukan wajah daerah. ”Untuk itu amanat yang telah disematkan tersebut hendaknya dapat ditunaikan dengan sungguh sungguh, sehingga harapan dari masyarakat akan kondisi Kabupaten Magelang yang lebih baik dapat tercapai,” harap bupati.
Sebagaimana diketahui, konflik antardua kubu DPRD ini bermula ketika empat unsur pimpinan maju ke pemilihan bupati dan wakil bupati Magelang. Kemudian ditunjuklah empat pejabat sementara.
Setelah pilkada selesai, dua pejabat sementara yakni Kuswan Haji dan Regeng Dwi Yanto enggan meletakkan jabatannya. Mereka berdalih masa jabatan sampai pelantikan bupati terpilih.
Sementara di luar gedung DPRD setempat, sejumlah orang dari perwakilan masyarakat perjuangan Kabupaten Magelang, meminta kedua kubu untuk segera duduk bersama menyelesaikan dualisme kepemimpinan tersebut.
“Kalau terus begini, kasihan rakyat Kabupaten Magelang. Pembangunan ke depan juga akan terganggu. Kami hanya ingin, permasalahan ini cepat berakhir. Sementara kepada pihak kepolisian, segera menindaklanjuti laporan kubu Susilo soal pemalsuan stempel DPRD,” pinta Samsuri, koordinator aksi.
Pimpin Sidang dengan Palu Bangunan
Sementara itu, ada pemandangan unik di sidang paripurna DPRD Kabupaten Magelang yang dipimpin Susilo SPt, kemarin. Dalam sidang itu, palu yang digunakan adalah palu bangunan.
Untuk menyamarkan palu itu, petugas setwan DPRD Kabupaten Magelang memasang isolatip. Hal itu sempat jadi bahan guyonan selama sidang oleh sejumlah peserta.
Menurut Susilo, palu sidang yang biasa dia gunakan diambil oleh kubu lain, Kuswan Haji yang dalam saat yang bersamaan menggelar rapat paripurna di Hotel Grand Artos Aerowisata
”Tadi diambil untuk sidang di tempat lain oleh pimpinan sementara. Kita malah tidak tahu,” kata Susilo. Pihaknya mengaku menyayangkan hal itu. Termasuk, dengan adanya rapat paripurna di luar gedung DPRD.
Sementara itu, sejumlah Mus­pida Kabupaten Magelang mengaku bingung lantaran menerima dua suarat undangan rapat paripurna. Apalagi waktunya bersamaan.
”Iya dapat dua undangan. Jadi bingung,” kata Kasubag Humas Polres Magelang AKP Parmanta.
Humas Kejaksaan Negeri (Kejari) Mungkid, Trimargono juga menyatakan hal serupa. ”Iya kita juga dapat dua undangan,” ungkapnya.
Sedangkan Ketua KPUD Ka­bu­patn Magelang, Makmun Rahmatullah mengaku hanya mendapatkan undangan paripurna dari kubu Susilo. Terkait kasus dugaan pemalsuan stempel yang dilaporkan oleh Ketua DPRD Susilo dengan terlapor H Kuswan Haji masih terus berlanjut. Polisi masih memproses kasus ini dan telah memeriksa sejumlah saksi.
”Sudah kita periksa beberapa orang termasuk saksi pelapor,” kata Kapolres Magelang AKBP Murbani Budi Pitono melalui Kasatreskrim AKP Saprodin, kemarin. (vie/lis)