Guru Harus Ubah Pola Pikir

122

WONOSOBO—Upaya menggenjot kemampuan pengajar alias guru dalam memahami kurikulum 2013, terus dilakukan oleh Dinas Pendidikan Pe­muda dan Olahraga. Di antaranya dengan menggelar workshop implementasi kurikulum melibatkan guru SMA dan SMK di Wonosobo.
Menurut Kepala Dinas Pen­di­dikan Pemuda dan Olahraga Ka­bupaten Wonosobo, One An­dang Wardoyo, workshop implementasi kurikulum ini bekerja sama dengan Unit Implementasi Kurikulum (UIK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan tujuan memberi pengetahuan, ilmu dan keterampilan untuk menerapkan kurikulum 2013.
“Harapannya bisa merubah mindset atau pola pikir para guru, yang sebagian besar proses pendidikannya masih menggunakan metode duduk, catat, dengar. Pola itu harus diubah menjadi pola pendidikan yang menyenangkan, aktif dan kreatif,” kata Andang disela pembukaan workshop.
Dengan berubahnya pola pikir ini, kata Andang, diharapkan bisa menjadi pijakan untuk memperkuat pendidikan berbasis kompetensi. Selama ini, sudah diterapkan di Wonosobo menjadi lebih baik lagi, sehingga melalui kurikulum 2013 ini bisa menghasilkan guru yang kreatif dan inspiratif dengan tetap memegang kode etik guru.
“Kegiatan ini juga dilakukan untuk mengecek sejauh mana penerapan kurikulum 2013 yang telah dilakukan selama satu semester ini di Kabupaten Wonosobo,” paparnya.
Dikatakan, selain sebagai penguatan teknis implementasi, meliputi perencanaan kurikulum seperti kurikulum tingkat satuan pendidikan, form-form penilaian dan struktur kurikulum, serta kurikulum aktual yang praktiknya menggunakan pendekatan scientific dan implementasi penilaian.
Kepala Bidang Pendidikan SMA dan SMK Dinas Pendidikan Kabupaten, Pemuda dan Olah­raga Wonosobo Kabupaten Wo­no­sobo, Musofa menyampaikan, kegiatan diikuti oleh 252 orang, yang terdiri dari kepala SMA/SMK se-Wonosobo, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru bimbingan dan konseling, guru mata pelajaran matematika, sejarah Indonesia dan bahasa Indonesia. ”Guru harus mampu pola pikir edukatif dalam proses pembelajaran, yakni menggunakan pola-pola pengajaran yang bisa memperkuat potensi peserta didik,” tuturnya.
Pola pikir yang dimaksud, kata Musofa, seperti mengubah pola pengajaran state of mind menjadi on going process, pola pengajaran otoritarian menjadi humanis dan pola pengajaran monolistic exclusive menjadi pluralistic inclusive. “Oleh karena itu, melalui kegiatan ini, esensi dari kurikulum 2013 bisa dimiliki oleh para pendidik, yakni kemampuan observasi, questioning, mencoba, menalar dan jaringan serta komunikasi,” ungkapnya. (ali/lis)