Pendopo Kabupaten ”Dibom”

171

WONOSOBO—Aksi brutal kemarin (18/12) dilakukan oleh sekelompok massa, di halaman pendopo kabupaten Wonosobo. Ratusan orang itu, merupakan pendukung salah satu calon presiden. Mereka meminta kepada bupati yang menjabat untuk turun, karena dinilai tidak netral dalam pemilu presiden. Pada akhir aksi, mereka juga meletakkan bom di halaman pendopo.
Ratusan massa pendukung salah satu calon presiden itu, mendatangi pendopo kabupaten sejak pagi, menggunakan angkutan bak terbuka dan ratusan sepeda motor. Mereka membentangkan poster dan spanduk, mendesak kepada bupati turun dari jabatannya.
Saat mendatangi halaman kantor bupati, peserta aksi dihadang oleh barisan Satpol PP, di depan pintu gerbang. Peserta aksi ngotot akan masuk ke pendopo. Namun dihadang oleh Satpol PP. Semakin lama, gelombang aksi semakin bertambah, pada saat itu, Satuan Dalmas dari Polres Wonosobo diturunkan berbaris membentuk pagar.
Sementara negosiator dari polres, mencoba mendamaikan peserta aksi agar melakukan demontrasi dengan tertib, langkah itu ternyata gagal. Ratusan warga anarkis, mereka melemparkan kayu, air telur busuk dan memukuli polisi dengan kayu. Melihat massa semakin beringas, Satuan Brigadir Mobile Polda Jateng diturunkan ke lokasi.
Mereka berbaris dan membawa pelindung dan tongkat untuk menghalau ratusan peserta aksi. Bentrok antara polisi dan masa semakin parah, beberapa peserta aksi bahkan melemparkan bom molotov ke polisi. Polisi melepaskan tembakan peringatan, kemudian menyapu peserta aksi dengan gas air mata dari water cannon. Peserta aksi kalang kabut, pada saat itu pula polisi mengamankan beberapa provokator dan diangkut ke Polres Wonosobo.
Setelah aksi bubar, mereka menyebar ke beberapa lokasi dan mencegat kendaraan lewat dan mengambil barang. Aksi tersebut bisa dihentikan petugas. Setelah semua peserta aksi bubar, polisi menyisir semua lokasi pendopo. Saat itulah, petugas menemukan bungkusan yang dicurigai berisi bom di halaman depan pendopo.
Melihat kondisi itu, Satbrimob Polda Jateng Unit Jibom (penjinak bom) diturunkan. Setelah dicek, bungkusan tersebut berisi bom. Oleh petugas bom diledakkan tanpa memakan korban jiwa.
Kisah brutal di atas, hanya rangkaian simulasi yang dilakukan oleh Polres Wonosobo bekerja sama dengan Satbrimob Polda Jawa Tengah, dalam rangka sistem pengamanan menghadapi pemilu legislatif dan pemilu presiden 2014. “Dari simulasi ini, kami berharap petugas di lapangan bisa memahami proses komunikasi, langkah yang dilakukan dalam pengamanan,” ujar Kasatbrimob Polda Jateng Kombespol Moch Badrus.
Dijelaskan, dalam simulasi itu, proses pengamanan didasarkan pada humanisme. Yakni dengan pendekatan komunikasi yang baik dengan massa aksi. Ketika massa brutal, maka polisi harus melakukan tindakan preventif.
Kapolres Wonosobo AKBP Agus Pujianto mengatakan, simulasi melibatkan 600 personel. Rinciannya, 400 personel dari Polres Wonosobo dan Satbrimob Polda Jateng, serta 200 personel dari lintas sektoral seperti TNI, tim SAR, PMI, pemadam kebakaran.
“Dengan simulasi, koordinasi dan komunikasi antarsektoral bisa lebih kuat saat melakukan sistem keamanan di lapangan,” katanya. (ali/lis)