Grebeg Ketupat Simbol Memaafkan

23

MUNGKID—Setiap tahun, usai puncak perayaan lebar­an, warga Dusun Dawung De­sa Banjarnegoro Kecamatan Mer­toyudan menggelar ritual unik. Yakni mengadakan kegi­at­an grebeg ketupat. Ketupat yang diperebutkan dipercaya memiliki berkah.

Kegiatan yang dipusatkan di lapangan desa setempat itu cukup meriah setiap tahunnya. Tidak kenal usia maupun jenis kelamin turut memeriahkan acara tersebut.

Sebelum acara grebeg kupat dimulai, seluruh warga bersalam-salaman sebagai simbol saling memaafkan. Usai bersalam-salaman, gunungan setinggi 2,5 meter yang berisi sekitar 800 ketupat, sayur mayur, dan buah-buahan dikirab keliling dusun oleh sejumlah warga.

Dalam kirab tersebut, juga diiringi oleh topeng ireng dan tarian daya­kan khas Magelang. Usai dikirab, gunungan tersebut kemudian diletakkan di tengah lapangan. Tarian prawita lestari yang diawakan oleh sekelompok anak gadis usia belasan tahun kemudian mengawali prose­si grebegan. Musik gamelan pun menghentak usai sesepuh dusun membacakan doa.

Begitu mendengar aba-aba “grebeg kupat dimulai”, ratusan warga langsung menyerbu gunungan tersebut. Mereka berebut mendapatkan ketupat sebanyak-banyaknya. Sebab, di dalam ketupat tersebut berisi uang dan bermacam-macam kupon. Meski saling berebut, namun mereka tampak menikmati acara tersebut. Usai grebeg kupat, warga juga dihibur dengan festival petasan dengan bunyi yang menggelegar.

”Jadi acara ini dimaksudkan untuk sama-sama mengakui kesalahan dan menghabiskannya dengan permintaan maaf,” jelas koordinator acara Grebeg Kupat dan Lintas Budaya Kampung, Gepeng Nugroho

Menurutnya, grebeg kupat sarat juga mengandung filosifi kebersamaan dan berlomba-lomba. ”Sedangkan kata kupat, dalam bahasa Jawa berarti ngaku lepat atau mengakui kesalahan,” ungkap dia.

Gepeng mengatakan acara Grebeg Kupat ini diselenggarakan setelah hari kelima atau keenam lebaran. Adapun ketupat yang mendominasi gunungan, menyimbolkan kesalahan yang harus dimaafkan secara bersama-sama.

Bambang Purwanto salah satu warga mengaku bersyukur de­ngan diselenggarakannya acara ini, bisa melibatkan generasi muda. “Utamanya untuk melestarikan budaya. Saya sangat mengapre­siasi,” tandasnya. (vie/lis)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here