Desak Suganto Kembali Ditahan

32

Serikat Pekerja dan Jaksa Penuntut Umum

MUNGKID—Setelah dikeluar­kan dari tahanan Lembaga Pe­ma­s­yarakatan (Lapas) kelas II Kota Magelang dan berstatus sebagai tahanan kota, Suganto, terdakwa kasus pemalsuan akta otentik PT Kertas Blabak dinilai telah membuat keributan hingga proses produksi di pabrik tersebut terganggu. Serikat Pekerja Kertas Blabak (SPKB) mendesak supaya mantan direktur utama tersebut kembali ditahan.

”Dengan mengacu peristiwa yang terjadi pada tanggal 5 dan 6 Agustus lalu dimana sejumlah LSM dan Suganto berusaha menduduki PT Kertas Blabak tidak mengizinkan karyawan untuk masuk dan bekerja,” kata Ketua SPKB Nur Hariri, kemarin.

Menurutnya, ada dua sif kerja yakni pukul 15.00 sore dan 23.00 malam yang dilarang masuk oleh pihak yang diduga merupakan suruhan Suganto. Selain itu, mereka juga memasang plang yang menyebutkan perusahaan tersebut masih sah milik Suganto.

Tidak hanya itu, LSM tersebut juga dituding membawa seluruh kunci masuk tempat produksi dan kendaraan pabrik yang semula berada di pos satpam. ”Atas usaha pendudukan tersebut kegiatan produksi terganggu dan menyebabkan kerugian materiil yang cukup besar,” katanya melalui surat yang ditembuskan ke Ketua PN Mungkid, Kejari Mungkid dan kurator PT Kertas Blabak.

Untuk itu, dia mendesak kepada PN Mungkid untuk meninjau kembali pengalihan tahanan Suganto. ”Kejadian-kejadian tersebut di atas telah jelas membuat resah seluruh karyawan. Nasib karyawan juga terancam, maka kami minta yang bersangkutan kembali ditahan,” imbuh dia.
Sebagaimana diketahui Suganto ditahan sejak tanggal 16 Juni 2013 di Mabes Polri setelah dilaporkan oleh Direktur Utama PT Kertas Blabak sebelumnya, Ali, atas dugaan melakukan pemalsuan akta otentik PT Kertas Blabak.

Setelah berkas dinyatakan P21 (lengkap), Mabes Polri kemudian melimpahkan berkas perkara ke Kejaksaan Negeri (Ke­jari) Mungkid. Penyidik Ke­jari Mungkid selanjutnya menitipkan ke Lapas Kelas II Kota Magelang Selasa (25/6) lalu. Namun kemudian Suganto dikeluarkan oleh PN Mungkid menjadi tahanan kota.

Sejak keluar, sudah terjadi dua kali kasus percobaan pendudukan Pabrik Kertas Blabak. Beberapa LSM dan ormas mendatangi pabrik. Mereka diduga sebagai orang suruhan Suganto.

Ketua Majelis Hakim PN Mungkid yang menangani perkara Suganto, Suharno, SH MH dalam sidang lanjutan kasus tersebut kemarin langsung melayangkan peringatan. ”Apakah dalam hal ini, saudara ikut serta dalam keributan tersebut? Kami ingatkan. Jangan melakukan hal- hal yang melanggar hukum karena jika nantinya Anda di­ketahui terlibat, kami akan ambil tindakan tegas,” kata hakim ketua, Suharno.

Hal itu kemudian buru-buru dibantah oleh Suganto. Dia mengakui bahwa dirinya sama sekali tidak tahu dan tidak ikut serta dalam aksi keributan yang dimaksud. ”Fitnah kalau ada orang yang bilang bahwa saya yang menghadirkan orang- orang ke pabrik dan membuat keributan. Saya pada waktu itu sedang dalam kondisi tidak fit dan ada di ru­mah,” jelasnya.

Kuasa hukum Suganto, Ka­ma­rudin menambahkan, usai aksi keributan tersebut, pihaknya juga telah mendatangi Suganto dan meminta penjelasan. ”Kami sendiri langsung ke rumah terdakwa dan tanya ada keterlibatan apa dengan keributan di pabrik. Karena kami akan langsung mengundurkan diri dari tim kuasa hukum kalau memang terlibat. Mohon majelis hakim lebih seksama,” katanya.

Terhadap pembelaan tersebut, JPU tetap meminta agar majelis hakim bisa mempertimbangkan status tahanan kota saat ini dan meminta agar Suganto kembali ditahan. ”Kemarin saat terdakwa di rutan, tidak terjadi apa-apa, tapi pas jadi tahanan kota ada kejadian itu,” ujar anggota tim JPU, Edius Manan.

Adapun dalam sidang kemarin, JPU berencana menghadirkan 4 orang saksi, namun hanya satu orang yang bisa hadir yaitu mantan kepala sekuriti, Pujo Kristanto. Sidang ditunda dan akan dilanjutkan Kamis pekan depan.

Dalam perkara ini, Suganto didakwa dengan pasal berlapis. Diantaranya dakwaan primer pasal 264 ayat 1 (1). Dakwaan subsider melanggar pasal 263 ayat satu atau dua jo pasal 266 ayat 1 KUHP. Dia diduga telah memalsukan akta otentik persusahaan nomer 1 tahun 2012 tentang susunan pemegang saham perusahaan.

Dalam akta tersebut Suganto mencantumkan dirinya sebagai komisaris utama perusahaan tersebut dan pemilik mayoritas saham. Akta ini kemudian dipergunakan untuk memailitkan perusahaan. (vie/lis)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here