Solar Habis, Nelayan Nangis

224

KELANGKAAN solar berimbas pada nasib nelayan. Kini nelayan tidak bisa melaut karena langkanya solar bersubsidi. Termasuk di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) yang ada di Kendal.

Imam, 30, nelayan Bandengan, Kendal menuturkan bahwa menghilangnya solar bersubsidi tersebut sejak empat hari lalu. “Bingung mau mencari solar kemana? Ke SPBU juga belum tentu dapat,” katanya bersama sang istri di atas motor dengan membawa sejumlah jeriken solar kosong.

Hal senada dikatakan oleh Rohman, 31, nelayan Bandengan lainnya. Menurutnya, jika harus menggunakan solar non subsidi, tak sepadan dengan hasil tangkapannya.

“Adanya di SPBU itu solar yang non subsidi, SPBN kosong. Tapi kalau pakai yang non subsidi, nggak sepadan dengan hasil tangkapan. Kalau berangkat pagi pulang pagi, biasanya habis Rp 300 ribu, tapi itu solar subsidi dan sudah termasuk bekal. Hasilnya Rp 500 ribu. Jadi kalau pakai non subsidi tidak ada untungnya. Padahal saat ini lagi banyak-banyaknya ikan, kok malah solarnya nggak ada,” katanya.

Sementara salah seorang staf Perusda Aneka Usaha Kendal,  Eri Budiningsih saat dikonfirmasi mengakui hal itu. Stok solar SPBN Bandengan untuk Maret ini sudah habis sejak 21 Maret lalu. Sedangkan untuk SPBN Tawang Rowosari baru habis Minggu (24/3) lalu.

“Memang kuota solar untuk Maret sudah habis. Yang Bandengan habis 21 Maret. Kalau Tawang setahu saya baru kemarin (Minggu, red),” katanya kemarin.

Pihak Perusda mengaku sudah mengajukan tambahan untuk kedua SPBN tersebut. Pada SPBN dari alokasi awal 88 kiloliter (KL) ditambah 32 kiloliter. Sedangkan untuk SPBN Tawang dari 224 kiloliter ditambah 64 kilolliter. (yud/jpnn/ida)