Setoran Nasabah Sehari Bisa Capai Rp 2 Miliar

214

Dari Sidang Kasus Investasi Abal-abal CV Bina Sinar Sejahtera

Setoran para nasabah di perusahaan investasi abal-abal CV Bina Sinar Sejahtera (BSS) cukup fantastis. Dalam sehari setoran dari nasabah bisa mencapai Rp 2 miliar. Hal itu terungkap dalam sidang dengan terdakwa Tan Tandi Gunawan mantan Direktur CV BSS di Pengadilan Negeri Wonosobo Senin (25/3) kemarin.

Dalam sidang yang dpimpin oleh Ketua Majelis Hakim Sarwono, dengan terdakwa Tan Tandi Gunawan mantan Direktur CV.BSS, saksi mantan kasir BSS, Yuniasih mengatakan berdasarkan cacatan pembukuan yang dilakukan, pada saat beroperasi jumlah setoran nasabah dalam sehari mencapai Rp 2 miliar.

“Jumlah setoran nasabah yang menginvestasikan uang, dalam sehari rata-rata transaksi antara Rp 500 juta sampai Rp 2 miliar,”tandasnya.

Yuniati menyebutkan, selama bekerja di perusahaan yang beralamat di Kampung Sidomulyo Wonosobo itu, dia bekerja sebagai penjaga kasir khusus menerima setoran dari para nasabah. Sedangkan untuk kasir yang memberikan bagi hasil kepada nasabah dikerjakan oleh karyawan lainnya. “Untuk bagian setoran nasabah, saya dan mbak Ririn,”katanya.

Berdasarkan buku cacatan setoran, Yuniasih menyebutkan dari 6 buku besar yang berisi nama-nama nasabah yang menyetor, dia pernah merekap secara keseluruhan. Dari total jumlah setoran yang melalui pembukuan dia, investasi para nasabah di CV BSS mencapai Rp 108 miliar. “Jumlah yang saya sampaikan itu dari enam buku besar yang setoran melalui saya,”imbuhnya.

Uang hasil setoran investasi para nasabah itu, kata Yuni, disetorkan kepada Tan Tandi Gunawan yang saat itu sebagai Direktur Utama CV. BSS. Apabila Tan tidak ada, maka uang akan disetorkan kepada Eko Cahyono sebagai direktur operasional. “Tiap hari uang yang masuk kami setorkan kepada Pak Eko,”katanya.

Selain Yuni, dalam sidang juga dihadirkan saksi Hariyono Rangkuti yang sempat bekerja sebagai koordinator pencari nasabah pada saat perusahaan itu beroperasi. Rangkuti mengaku keterlibatannya di perusahaan itu tidak dengan cara melamar. Namun akibat bujuk rayu yang dilakukan oleh Tan Tandi Gunawan dan Yuswendro serta Eko Cahyono. “Kebetulan saya punya warung makan, mereka kerap rapat di tempat saya,”ujarnya.

Pada awalnya, Rangkuti menga­ku tidak tertarik dengan tawaran in­vestasi di perusahaan itu. Na­mun lambat laun karena sering ditawari dia terlibat sebagai koordinator.Selain mencari nasabah, dia bahkan menjadi nasabah dan menanamkan uang Rp 400 juta yang didapat dari penjualan aset mobil miliknya. “Selama menjadi koordinator, saya mendapatkan uang Rp 16 juta. Namun uang pribadi saya yang saya tanamkan juga hilang mencapai Rp 400 juta,”akunya. (ali/lis)