Pasien Jamkesmas Dipungut Biaya

148

Terpaksa Pulang Awal

KAJEN-Meski pasien Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), ternyata tetap ditarik biaya pengobatan oleh pihak RSUD Kajen. Seperti yang dialami Badriyah, 35, warga Desa Donowangun RT 05 RW 01, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan, yang menderita penyakit gondok, tetap ditarik Rp 250 ribu untuk biaya laboratorium dan rontgen. Khawatir ditarik biaya lainnya, Badriyah pun terpaksa pulang lebih awal.

Awalnya, Badriyah menderita penyakit gondok yang terus membesar di sekitar leher, sehingga terasa sakit ketika digunakan untuk menelan makanan. Karena itulah, dengan menggunakan kartu Jamkesmas di Puskesmas Talun, akhirnya mendapatkan surat rujukan untuk segera menjalani operasi di RSUD Kajen.

”Ketika di Puskesmas Talun, mulai dari pendaftaran hingga biaya pengobatan semua gratis. Kemudian, dokter Puskesmas menyarankan untuk dioperasi dengan Jamkesmas, supaya tidak dipungut biaya,” ungkap Badriyah, Senin (24/3) siang kemarin.

Akhirnya dengan diantar oleh Musidin, suaminya, Badiriyah langsung menjalani perawatan di kamar kelas III ruang Mawar RSUD Kajen RSUD Kajen. Setelah diperiksa oleh tim dokter, harus menjalani proses pemeriksaan laboratorium dan rontgen dengan membayar biaya Rp 250 ribu. Menurutnya meski dirinya menunjukkan surat Jamkesmas, petugas di ruang laboratorium, tetap ngotot meminta biaya Rp 250 ribu atau operasi dibatalkan. ”Saya terpaksa membayar Rp 250 ribu, karena ingin sembuh,” kata Badriyah.

Musidin, suami Badriyah mengatakan, setelah menjalani operasi, pihaknya langsung memutuskan untuk segera pulang, meski pihak dokter belum mengizinkan. Menurutnya hal itu dilakukan, karena khawatir pihak RSUD Kajen, akan menagih biaya-biaya lain. ”Setelah operasi, langsung pulang, karena takut kalau ditagih. Katanya Jamkesmas tidak membayar, nyatanya tetap dipungut biaya,” ujar Musidin.

Petugas yang berada di ruang laboratorium RSUD Kajen, RD, menjelaskan bahwa pembayaran yang dilakukan Badriyah sebesar Rp 250 ribu untuk biaya laboratorium darah. Pihaknya hanya mendapatkan perintah mematok tarif Rp 250 ribu untuk pemeriksaan darah kepada semua pasien tanpa kecuali.

”Saya hanya menjalankan tugas. Semua pasien setiap melakukan pemeriksaan darah harus membayar Rp 250 ribu, baik umum maupun Jamkesmas,” jelas RD, yang keberatan namanya dicatut.

Sementara Direktur RSUD Kajen, Dwi Ari Gunawan, menolak ketika dikonfirmasi dengan alasan banyak pasien. Sedangkan pihak humas RSUD Kajen, Widodo, tidak berani memberikan keterangan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pekalongan, Budi Sutanto, menegaskan pihaknya akan segera mengevaluasi kinerja RSUD Kajen. Mengingat rumah sakit tersebut sudah menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), mestinya bisa memberikan pelayanan yang lebih baik.

Terkait adanya pungutan biaya pada pasien Jamkesmas, pihaknya akan berkoordinasi dengan RSUD Kajen. “Mestinya pasien Jamkesmas tidak dipungut biaya. Saya akan koordinasi dulu dengan pihak rumah sakit, kenapa bisa terjadi demikian,” tegas Budi Sutanto. (thd/ida)