Paguyuban Pedagang Somasi Pemkab

156

Disperindag Siapkan Jawaban 

DEMAK-Paguyuban Pedagang Pasar Bintoro (P3B) melakukan somasi kepada Pemkab Demak. Intinya pedagang menilai bahwa penataan pedagang pasar tidak sesuai dengan rencana semula. Bahkan, hingga kini sekitar 20 pedagang yang sebagian besar pemilik gilingan bakso dan penjual bumbu masih tercecer di luar bangunan Pasar Bintoro.

Ketua P3B, Muntaqo mengungkapkan bahwa pihaknya menyayangkan penataan pedagang yang tidak maksimal. Akibatnya, tidak semua pedagang memperoleh lokasi yang pas di pasar induk tersebut.

“Yang kami somasi itu bukan pribadi, namun Pemkab. Karena tidak bisa menata pedagang, utamanya yang berada di tepi kali es sebelah timur atau belakang pasar. Buktinya, sampai sekarang mereka masih berjualan di pinggir kali,” kata Muntaqo, kemarin.

Muntaqo menambahkan, keberadaan Pasar Bintoro sesuai rencana awal merupakan segitiga emas, lokasi strategis yang mendukung kawasan wisata religi di Demak. Pasar Bintoro melengkapi posisi Masjid Agung dan Makam Sunan Kalijaga di Kadilangu. “Pasar ini sebelumnya direncanakan sebagai tempat singgah para peziarah. Namun, kenyataannya keadaan pasar cukup semrawut,” ujarnya.

Muntaqo mencontohkan, penataan zoning pedagang juga berubah-ubah. Untuk pedagang buah misalnya, sebelumnya berada di dalam, tapi kini berpindah ke kios depan pasar. ”P3B juga minta pemkab menjelaskan adanya indikasi kerugian material terhadap pembangunan pasar mulai tahap pertama, kedua dan ketiga. Ada tiang pancang pasar bagian belakang yang tidak tercantum dalam dokumen lelang. Pada pelaksanaannya, pembangunan dipecah-pecah menjadi tiga tahap juga diduga menyalahi kepres,” katanya.  

Sementara itu, Kabid Pengelola Pasar Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Pemkab Demak, M Romli menuturkan bahwa beberapa pedagang gilingan bakso dan sekitarnya tidak ditempatkan di dalam pasar agar tidak menimbulkan polusi suara. Sebab, mesin-mesin penggiling bakso cukup bising.

Meski begitu, pedagang gilingan bakso akan tetap ditempatkan di luar pasar, namun diberi akses untuk konsumen yang hendak membeli bakso. “Kami buatkan pintu untuk mempermudah akses bagi konsumen. Karena itu, pedagang gilingan bakso direlokasi dan kami dekatkan dengan pasar,” katanya.

Soal banyaknya pedagang buah yang berjualan di depan tidak sesuai zoningnya, karena mereka banyak yang menyewa. “Kami sudah meminta kepala pasar untuk menegur padagang buah tersebut untuk kembali ke tempatnya,” jelasnya. Sedangkan, terkait persoalan tahapan pembangunan, Romli sulit memahami apa yang disampaikan P3B. (hib/ida)