Giliran Harga Cabe Melambung

108

BATANG-Setelah harga bawang merah dan bawang putih turun lantaran pasokan berlimpah, kini giliran harga cabe yang naik hingga 200 persen. Semula harganya hanya Rp 27 ribu/kg, kini naik menjadi Rp 48 ribu/kg. Akibatnya, banyak pedagang sayuran di Pasar Batang yang memilih tidak menjual cabe, lantaran harganya tinggi, juga cepat busuk, jika tidak disimpan di tempat baik.

Sugito, 34, warga Desa/Kecamatan Kandeman, pedagang sayuran mengaku tidak berani membeli cabe dalam jumlah banyak, karena kondisi harga cepat berubah. ”Pagi kami beli dengan harga Rp 30 ribu/kg, kemedian dijual Rp 32 ribu/kg, sorenya berubah menjadi Rp 40 ribu/kg,” ungkap Sugito, Senin (25/3) siang kemarin.

Maryati, 52, pedagang masakan di Alun-Alun Kauman Batang, merasa semakin kesulitan menghadapi pelanggan. Lantaran selama ini memberikan sambal kepada pelanggan secara gratis. ”Kalau sambal kami tarik, pelanggan banyak yang protes. Namun kalau digratiskan, harga cabe sampai Rp 40-an ribu/kg,” kata Maryati.

Pengurus Asosiasi Pedagang Pasar, Kecamatan Batang, Rohmadi, mengatakan bahwa dalam kondisi harga sayuran yang tidak stabil, mengakibatkan banyak pedagang kecil yang lebih menutup sementara dagangannya, daripada merugi. ”Seperti harga bawang putih, sekarang sudah turun menjadi Rp 32 ribu/kg. Meski sebelumnya mencapai harga Rp 60 ribu/kg dan harga tersebut akan turun terus,” kata Rochmadi.

Mestinya pemerintah, katanya, punya harga patokan tertinggi yang pasti untuk beberapa kebutuhan pokok, termasuk bawang dan cabai. Jika pemerintah tidak menentukan patokan harga terendah, akan terjadi penjualan barang seperti saat ini. ”Dulu harga kedelai juga demikian. Namun setelah ada harga tertinggi Rp 8 ribu, maka pedagang merasa nyaman, tidak khawatir lagi,” saran Rochmadi.

Kepala UPT Pasar Batang, Edi Nugroho, menyampaikan, sejak harga cabe terus melambung, banyak pemasok sayuran yang datang ke Pasar Batang lebih pagi dari sebelumnya. Menurutnya jika harga bawang atau cabe naik, barang tersebut menjadi rebutan, karena jumlahnya terbatas. ”Kalau barangnya terbatas, seperti cabe pedagang kecil, sudah datang lebih pagi, karena takut kehabisan barang,” kata Edi. (thd/ida)