Antiklimaks, PSIS Ditahan Persiku Kudus

249

SEMARANG – Rekor selalu menang di kandang PSIS pada kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2013 ternoda. Adalah Persiku Kudus, yang mematahkan keangkeran Stadion Jatidiri Semarang.
Sore kemarin, Persiku mampu menahan imbang PSIS 0-0, di laga terakhir skuad Mahesa Jenar pada putaran pertama grup 2. Sebelumnya, PSIS selalu menang di kandang.

Atas hasil tersebut, saat ini PSIS memang masih di puncak klasemen sementara grup 2, dengan raihan 15 poin. Namun, posisi PSIS terancam tergusur. Di bawah PSIS, SCS Cilacap sudah mengumpulkan 13 poin. Namun anak-anak Cilacap masih menyisakan dua laga lagi, meski harus dilakukan di kandang lawan. Yakni, di markas Persip Pekalongan; dan Persitema Temanggung.

Persikabo Kabupaten Bogor juga bisa mengancam posisi PSIS, karena telah mengoleksi 12 poin dan masih menyisakan satu laga.

Hasil kaca mata ini, cukup mengecewakan pendukung PSIS yang kemarin tumpah ruah di Stadion Jatidiri. Tak kurang 20 ribu penonton, memadati stadion tua milik Pemprov Jateng tersebut.

Ketika laga memasuki menit ke-85, penonton sempat meluapkan kegusarannya karena PSIS tak kunjung mencetak gol, dengan menyalakan kembang api dan petasan nyaris di seluruh sisi tribun.

Akibatnya, laga sempat dihentikan 10 menit karena asap pekat kembang api memenuhi lapangan dan membuat pandangan terbatas. Wasit Yudi Rahmanto memutuskan untuk kembali menggulirkan sisa waktu pertandingan, setelah suasana kembali kondusif. Namun, Tim Mahesa Jenar tetap gagal mengubah kedudukan imbang hingga akhir laga.

Torehan satu poin ini seolah menjadi antiklimaks PSIS, setelah di laga sebelumnya mampu membantai Persipur Purwodadi 7-0 di tempat yang sama. Meski terus menyerang, permainan PSIS kemarin tidak enak ditonton.

Variasi serangan yang diperagakan pemain PSIS mudah dipatahkan pemain belakang Persiku. Sementara peluang emas yang tercipta, mentah begitu saja. Salah satunya, di menit ke-27, striker PSIS Emile Linkers yang tinggal berhadapan dengan kiper lawan, gagal menceploskan si kulit bundar ke gawang, meski kesempatan gol 95 persen tercipta.

Sementara Persiku sendiri tampak begitu tangguh di lini belakang. Duet striker Linkers-Hari Nur Yulianto dibuat frustrasi oleh kokohnya tembok Persiku yang digalang oleh pemain asing mereka: Noah Romuald.

Frustrasinya pemain, tampaknya merembet ke pelatih PSIS Firmandoyo. Di akhir babak kedua, Firmandoyo melakukan pergantian yang layak dipertanyakan. Pemain sayap muda Syaiful Amar, diganti dengan pemain gaek Khusnul Yakin.

Sementara Emile Linkers malah diganti dengan pemain bertahan, yakni Rizky Yulian. Kemudian Hari Nur Yulianto diganti Miko Ardiyanto, ketika laga tersisa dua menit saja.

Pelatih Persiku Lukas Tumbuan ditemui usai laga kemarin mengakui, sore kemarin pihaknya menginstruksikan kepada Agus Santiko dkk untuk bermain negative football. Yakni, dengan menumpuk pemain di belakang dan tengah untuk memaksakan hasil seri, serta hanya mengandalkan serangan balik untuk mencoba mencetak gol.

“Ini bagian dari strategi kami untuk bisa mencuri poin dari PSIS, karena kita tahu PSIS tim kuat di Divisi Utama kali ini dan kami bersyukur bisa mencuri poin di kandang mereka,” beber Lukas.

Sedangkan di kubu PSIS, asisten pelatih Eko Purjiyanto mengaku kecewa dengan hasil imbang yang mereka raih di kandang kemarin. Menurut Eko, anak-anak asuhnya kurang cerdas bermain. “Pemain kita kurang pintar dalam membongkar strategi bertahan total yang diterapkan Persiku. Tentu hasil ini menjadi kerugian bagi kami karena gagal meraih poin penuh,” beber Eko Purjiyanto.

General Manager PSIS Ferdinand Hindiarto menambahkan, hasil delapan laga yang telah dilakoni PSIS selama setengah musim kemarin, akan digunakan sebagai bahan evaluasi sebelum menapak ke putaran kedua.

Hasil evaluasi akan diputuskan untuk melakukan bongkar pasang pemain, dengan tujuan meningkatkan performa PSIS di putaran kedua mendatang.

“Setelah evaluasi kita akan tentukan akan menambah pemain atau tidak dan itu menjadi keputusan mutlak pelatih. Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Panser Biru maupun Snex karena gagal memberikan mereka kado kemenangan di hari ulang tahun mereka,” pungkas Ferdinand. (bas/smu/isk/ce1)